Tuesday, July 29, 2025

Tumbuh di Luar Tembok Keraton


 "Wong sing kalingan suka, ilang prayitane."

Orang yang larut dalam kenikmatan, akan kehilangan kewaspadaannya.
Sebuah prinsip tajam yang diwariskan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII—bukan sekadar pepatah, tapi cermin dari sebuah pandangan hidup yang mendalam.

Di balik megahnya tembok Keraton Yogyakarta dan segala kebesaran simbol kebudayaan Jawa, tersimpan satu kisah menarik tentang bagaimana seorang raja justru tidak membesarkan anaknya dalam kemewahan dan kenyamanan yang berlebihan. Sri Sultan HB VIII, atau yang dikenal sebelum naik takhta sebagai GPH Puruboyo, memilih jalan berbeda.

Anaknya, GRM Darojatun—yang kelak dikenal sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono IX—tidak dibesarkan dalam pelukan abdi dalem atau hangatnya lingkungan keraton. Justru sejak usia empat tahun, beliau ‘dititipkan’ kepada seorang kepala sekolah Belanda bernama Mulder di daerah Gondomanan. Tidak ada inang, tidak ada kemanjaan, dan tidak ada protokol keraton. Hanya seorang anak yang belajar hidup seperti rakyat kebanyakan—bahkan mungkin lebih keras.

Dalam benak sang ayah, keputusan ini bukan karena kurang cinta, tapi justru karena cinta yang sangat besar. Cinta yang tidak ingin melumpuhkan. Ia ingin anak-anaknya tumbuh sebagai manusia utuh, bukan sekadar pewaris tahta yang nyaman duduk di singgasana tanpa tahu pahit getirnya dunia luar.

Prinsip "jangan terbuai nikmat" inilah yang jadi dasar dari segala keputusannya. Sultan HB VIII tahu, terlalu lama berada dalam zona nyaman hanya akan menggerogoti kewaspadaan dan ketangguhan. Maka, jalan hidup GRM Darojatun ditempa oleh kemandirian sejak dini. Mulai dari TK di bawah asuhan orang Belanda, hingga pendidikan dasar di Jalan Pakem, menengah di Semarang dan Bandung, dan akhirnya ke bangku kuliah di Negeri Belanda.

Selama hampir dua dekade masa tumbuh-kembangnya, GRM Darojatun tidak tinggal dalam bayang-bayang kemewahan keraton. Ia hidup di tengah masyarakat biasa, makan seperti mereka, belajar seperti mereka, dan merasakan hidup tanpa segala keistimewaan yang mestinya bisa ia nikmati.

Namun, cerita ini tidak berhenti di soal pola asuh.

Di masa kepemimpinannya, Sri Sultan HB VIII juga mencatatkan berbagai jejak kemajuan. Ia bukan hanya pemimpin istana, tapi juga penggerak kemajuan rakyat. Di bawah kepemimpinannya, lahirlah banyak inisiatif pendidikan dan budaya. Sekolah Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara mulai berkembang (1922), Organisasi Politik Katolik Jawi muncul (1923), dan Kongres Perempuan Indonesia pertama pun digelar (1929).

Keraton bukan hanya menjadi pusat kekuasaan, tapi juga pusat penggerak budaya dan pembangunan. Masjid Gede direnovasi, Bangsal Pagelaran dan Tratag Siti Hinggil diperbarui, pakem tari klasik Yogyakarta ditetapkan, dan pertunjukan wayang wong besar-besaran digelar hingga 20 lakon.

Bahkan Sultan memberikan keleluasaan bagi para abdi dalem untuk mengenyam pendidikan formal—sebuah langkah yang revolusioner pada zamannya. Ia juga mendukung pengadaan ambulan untuk rumah sakit, sesuatu yang memperlihatkan kepeduliannya terhadap kesehatan rakyat.

Membaca kisah ini, saya terdiam cukup lama. Dalam dunia yang hari ini semakin gemar mengejar kenyamanan dan kemudahan, ada satu pelajaran berharga yang dititipkan oleh Sultan HB VIII:

Jangan terlalu lama berada di zona nyaman.
Karena kenyamanan yang tak terkendali, bisa jadi candu yang melumpuhkan kewaspadaan.

Pendidikan karakter sejati bukan soal kata-kata bijak, tapi keputusan-keputusan sulit dalam membentuk watak manusia. Sultan HB VIII tidak hanya membesarkan pemimpin masa depan, tetapi juga menanamkan nilai ketangguhan, kewaspadaan, dan semangat melayani rakyat.

Saya pun bertanya pada diri sendiri:
Apakah saya sudah cukup keluar dari zona nyaman saya?
Ataukah saya mulai kehilangan prayita, kehilangan kewaspadaan karena terlalu larut dalam kenyamanan?

Kisah Sri Sultan HB VIII ini bukan sekadar cerita tentang seorang raja. Ini adalah pelajaran bagi setiap orang tua, pendidik, pemimpin, bahkan untuk kita—yang sedang belajar jadi manusia yang utuh.

Karena pada akhirnya, takhta sejati bukan yang diwariskan dari darah biru, tetapi yang tumbuh dari keberanian melawan kenyamanan.


📍Catatan dari sudut kecil hati seorang pembelajar,
yang sedang berusaha tidak kalingan suka,
dan tetap eling lan waspada.

Friday, June 20, 2025

Perempuan dan Kedudukannya: Dari Warisan Tradisi Menuju Rekonstruksi Peran

      Suatu sore, dalam perjalanan pulang dari kampus, saya berbincang dengan seorang teman perempuan tentang mimpinya. Ia ingin menjadi dosen, punya karier cemerlang, namun juga ingin membesarkan anak-anaknya sendiri kelak. Di tengah obrolan hangat itu, ia bertanya, “Bisa nggak ya, perempuan itu berdiri di dua dunia sekaligus—domestik dan publik—tanpa harus merasa gagal di salah satunya?”

           Pertanyaan itu seperti membuka pintu lama dalam diskusi panjang soal kedudukan perempuan. Sebuah topik klasik, tapi tak pernah kehilangan relevansinya. Karena sampai hari ini, posisi perempuan dalam struktur sosial masih jadi isu yang kompleks—dipenuhi dikotomi, stereotip, dan konstruksi sosial yang panjang usianya.

Kedudukan dan Peran: Dua Hal yang Tak Terpisahkan

Dalam sosiologi, kedudukan dimaknai sebagai posisi atau tempat seseorang dalam tatanan sosial. Ia tidak berdiri sendiri, karena selalu berdampingan dengan peran, yakni ekspektasi sosial terhadap tindakan yang dilakukan berdasarkan kedudukan itu. Dan dalam praktiknya, perempuan sering kali ditempatkan dalam posisi yang “tersudut” dalam struktur peran yang sudah dikonstruksi sejak lama.

Teori-teori klasik bahkan terbagi dua: kelompok fungsionalis melihat dominasi laki-laki sebagai sesuatu yang alami dan tak bisa ditawar, sedangkan kelompok konflik menilai dominasi itu sebagai bentuk penindasan sistemik yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat.

Tapi, apakah semua itu benar-benar kodrati? Atau sebenarnya hasil dari konstruksi budaya yang telah berlangsung lama?

Biologi Bukan Justifikasi Diskriminasi

Memang benar, secara biologis, perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan yang jelas. Seperti yang dijelaskan Mansyur Faqih, perempuan memiliki rahim, memproduksi ovum, bisa menyusui, dan melahirkan. Sedangkan laki-laki memproduksi sperma dan memiliki karakteristik biologis lain. Tapi apakah perbedaan ini secara otomatis membatasi ruang gerak perempuan hanya di dapur, sumur, dan kasur?

Di sinilah jebakan konstruksi sosial bekerja. Masyarakat menciptakan “realitas objektif” tentang peran perempuan berdasarkan perbedaan biologis, lalu menjadikannya standar yang mutlak. Inilah yang disebut sebagai proses konstruksi, sebuah bangunan persepsi yang lama-lama dianggap sebagai kebenaran yang tak bisa diubah.

Namun dalam perkembangan zaman, proses ini mulai digugat. Melalui dekonstruksi, perempuan mulai mempertanyakan: mengapa ruang publik hanya milik laki-laki? Mengapa keberadaan perempuan di panggung politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan dianggap sebagai “partisipasi tambahan”, bukan hak yang inheren?

Dari dekonstruksi ini, lahirlah rekonstruksi—sebuah proses pembentukan ulang makna peran dan kedudukan perempuan dalam masyarakat.

Publik vs Domestik: Siapa yang Menentukan Batasnya?

Perempuan selama ini lebih banyak diidentikkan dengan wilayah domestik, sementara laki-laki dengan publik. Dalam masyarakat patriarkal, wilayah publik dianggap lebih prestisius, penuh peluang, dan dihormati. Sebaliknya, pekerjaan domestik dianggap “biasa saja” atau bahkan invisible.

Padahal, realitas kini tidak lagi seperti itu. Seorang perempuan bisa menjadi ibu rumah tangga yang hangat, sekaligus CEO sebuah perusahaan. Seperti kata Herbert Spencer, perempuan punya hak yang sama untuk bersaing di ruang publik, bukan karena mereka meniru laki-laki, tapi karena mereka juga manusia yang merdeka dan berdaya.

Namun, pertanyaannya kembali pada struktur sosial. Apakah lingkungan mendukung mereka untuk itu? Atau justru memenjarakan mereka dalam persepsi dan ekspektasi yang menekan?

Budaya, Agama, dan Ekonomi: Penentu Ruang Gerak

Ada tiga aktor besar yang ikut menentukan bagaimana perempuan diposisikan dalam masyarakat: agama, budaya, dan ekonomi.

Dalam masyarakat seperti Jawa, misalnya, Clifford Geertz menyebut bahwa agama berperan sebagai sistem kebudayaan. Simbol, nilai, dan ritual keagamaan mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap posisi perempuan. Jika agama dipahami secara sempit, ia bisa menjadi alat pembenaran diskriminasi. Namun jika agama dimaknai secara utuh, ia bisa menjadi kekuatan emansipatoris.

Begitu juga dalam bidang ekonomi, stratifikasi kelas berpengaruh besar terhadap peran perempuan. Max Weber menyebut dua jenis kelas: satu yang bekerja sama, dan satu lagi yang berkonflik memperebutkan sumber daya. Dalam masyarakat ekonomi modern, perempuan seringkali harus bekerja dua kali lipat: bekerja di kantor dan juga tetap bertanggung jawab atas rumah tangga.

Akhir Kata: Perempuan Tak Perlu Memilih Satu Dunia

Dalam dunia hari ini, perempuan tidak harus memilih antara menjadi ibu yang baik atau profesional yang sukses. Mereka bisa menjadi keduanya—asal mendapat dukungan, pengakuan, dan ruang yang setara dari masyarakat. Kedudukan perempuan bukan ditentukan oleh biologi semata, tetapi oleh sejauh mana kita sebagai masyarakat mau membuka ruang untuk rekonstruksi peran sosial yang lebih adil dan manusiawi.

Seperti kata teman saya sore itu, “Aku cuma pengen jadi perempuan yang bisa berkembang, tanpa harus merasa bersalah.” Dan saya pikir, kita semua—perempuan maupun laki-laki—punya tanggung jawab untuk membuat dunia ini memungkinkan bagi mimpi sederhana semacam itu.

#PerempuanBerdaya #RekonstruksiPeran #SetaraDalamRuangPublik #CeritaSosialKita #SosiologiPerempuan #KritikBudaya

Dakwah Perempuan, Cahaya Peradaban: Inspirasi Naskah Tabligh untuk Aisyiyah

Beberapa waktu lalu, saya ikut lomba membuat naskah tabligh untuk ibu-ibu Aisyiyah di tingkat ranting. Awalnya, saya hampir ragu untuk ikut karena merasa belum cukup mampu. Tapi ternyata, dari proses menulis itu saya justru semakin belajar banyak tentang betapa pentingnya peran perempuan dalam dakwah Islam. Alhamdulillah, naskah ini mendapat juara 2. Rasanya bukan soal juaranya, tapi lebih ke bagaimana pengalaman ini semakin menguatkan saya bahwa perempuan memang punya peran besar dalam membangun peradaban melalui dakwah.

Nah, di sini saya ingin berbagi naskah tersebut. Semoga bisa jadi inspirasi, referensi, atau bahkan semangat untuk siapa saja yang ingin terus belajar menyampaikan kebaikan. Selamat membaca, semoga bermanfaat.

------

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan islam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan pengikut beliau hingga akhir zaman.

Ibu-ibu yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan yang mulia ini, izinkan saya menyampaikan beberapa pesan tentang pentingnya dakwah perempuan dalam Islam. Dakwah adalah kewajiban setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Dakwah bukan hanya tugas para ulama, tetapi juga tugas kita semua untuk menyampaikan kebaikan dan kebenaran kepada sesama.

Peran perempuan dalam dakwah sangatlah penting. Di zaman Rasulullah SAW, para sahabiyah (sahabat perempuan) memiliki peran yang sangat besar dalam menyebarkan ajaran Islam. Contohnya adalah Khadijah Radhiyallahu Anha, istri pertama Rasulullah SAW, yang selalu mendukung dan membantu Rasulullah dalam menyebarkan Islam. Begitu pula dengan Aisyah Radhiyallahu Anha, istri Rasulullah yang banyak meriwayatkan hadits dan mengajar banyak sahabat tentang ilmu agama.

Ibu-ibu yang berbahagia,

Perempuan memiliki kemampuan dan keistimewaan yang bisa dimanfaatkan dalam dakwah. Salah satunya adalah kemampuan berbicara dan berinteraksi dengan orang lain. Perempuan bisa menggunakan kemampuan ini untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada keluarga, teman, dan masyarakat sekitar. Selain itu, perempuan juga memiliki kepekaan dan kelembutan hati yang bisa menarik orang lain untuk mendengarkan dan menerima dakwah dengan baik.

Namun, dalam menjalankan dakwah, perempuan harus tetap menjaga adab dan etika dalam Islam. Berpakaian sesuai dengan syariat, menjaga pergaulan, dan selalu menjaga niat lillahi ta'ala (karena Allah semata). Dakwah yang dilakukan dengan hati yang ikhlas dan cara yang baik insya Allah akan mendapatkan ridha Allah SWT.

Ibu-ibu yang dirahmati Allah,

Marilah kita semua, terus berusaha untuk menjalankan dakwah di mana pun kita berada. Sebelum saya akhiri, saya teringat sebuah kidung jawa saat saya masih remaja, judulnya Gusti Allah iku Siji. Mungkin diantara ibu-ibu, pernah mendengarnya.

Sholatullah salamullah, ‘ala thohaa rosulillaah

Sholatullah salamullaah, ‘ala yasiin habibillaah.

 

Gusti Allah iku siji, Pangeran kang disuwuni.

 Ora kakung ora putri, Ora ana sing madani.

 

Gusti Allah iku kuasa, Tanpa garwa tanpa putra.

Tanpa ibu tanpa rama, Gawe kewan lan manungsa.

 

Gusti Allah Maha Rahman, Gawe srengenge lan rembula.

Gawe Bumi lan wit-witan, Kanggo urip panguripan.

 

Gusti Allah Maha Kuat, kang nyiptakne Nur Muhammad.

Ayo pada maca shalawat, ben slamet dunya akherat.

Di dalam kidung ini tersirat makna ketauhidan. Dalilnya merujuk pada Al-Quran, atau dapat kita temukan ringkasnya dalam surat Al-Ikhlas. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan dan hidayah untuk terus berada di jalan-Nya. Terus berdakwah dengan apapun yang kita bisa dan jangan berhenti belajar. (Amin ya Rabbal ‘alamin) Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat, bila ada kekurangan mohon dimaafkan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.





Wednesday, June 18, 2025

Live with Wisdom: Hidup Gak Cuma Butuh Pintar, Tapi Juga Bijak

Kata “wisdom” atau kebijaksanaan sering kita dengar dalam banyak konteks. Namun, apa sebenarnya makna kebijaksanaan itu dalam kehidupan sehari-hari?

Dalam sebuah kajian, Ustadz Nouman Ali Khan menyampaikan bahwa:

"Wisdom is keeping something from falling apart."
Kebijaksanaan adalah kemampuan menjaga sesuatu agar tetap utuh, tidak hancur.

Ilustrasi sederhana yang beliau berikan adalah tentang dagu. Dagu menjaga bentuk wajah agar tetap proporsional. Bayangkan jika wajah manusia tidak memiliki dagu—tentu akan tampak aneh dan tidak seimbang. Begitu pula dalam hidup, kebijaksanaan menjaga kita agar tidak kehilangan arah, tetap utuh secara mental, emosional, dan sosial.

Apa Saja Ciri-Ciri Kebijaksanaan?

Dari berbagai literatur, wisdom memiliki beberapa unsur penting, antara lain:

  1. Nasihat yang baik (Good advice)

  2. Bersikap adil (Justice)

  3. Keputusan yang tepat dan tegas (Decisive judgment)

  4. Dapat dipercaya dan komunikatif (Trustworthy & Clarity)

  5. Mengetahui sesuatu dan mampu mengamalkannya (Knowledge & Action)

Kebijaksanaan bukan hanya tentang mengetahui hal yang benar, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi yang tepat.

Teladan Wisdom dalam Al-Qur’an

1. Nabi Sulaiman a.s. – Bijak dalam Mengambil Keputusan

Dalam satu kisah, Nabi Sulaiman menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menyelesaikan sengketa antara dua orang wanita yang memperebutkan seorang bayi. Beliau tidak hanya adil, tetapi juga berpikir strategis dan penuh pertimbangan. Ini adalah contoh nyata dari keputusan bijak yang menyelamatkan keadaan.

2. Luqman al-Hakim – Bijak dalam Mendidik Anak

Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan dalam Al-Qur’an karena nasihat-nasihatnya yang sangat dalam kepada anaknya. Hal ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan adalah karunia yang bisa diberikan kepada siapa saja, selama ia mau belajar dan memahami kehidupan.

3. Ashabul Kahfi – Bijak dalam Menjaga Iman

Kelompok pemuda ini memilih meninggalkan keramaian kota demi menjaga keyakinan mereka. Mereka tidak mengikuti arus masyarakat yang penuh penyimpangan. Sikap mereka mencerminkan keteguhan hati dan kemampuan melihat jauh ke depan, meskipun harus berkorban kenyamanan.

4. Hasan dan Husain – Bijak dalam Menyampaikan Kritik

Ketika melihat seseorang yang keliru dalam berwudhu, mereka tidak langsung menyalahkan. Sebaliknya, mereka menyampaikan koreksi dengan cara halus dan penuh adab. Ini contoh bahwa kebijaksanaan juga berkaitan erat dengan cara kita memperlakukan orang lain dengan baik dan hormat.

Bagaimana Kita Bisa Belajar Menjadi Bijak?

Kebijaksanaan bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia perlu dilatih dan dipraktikkan. Berikut beberapa cara sederhana:
  • Belajar untuk tidak tergesa-gesa dalam merespons sesuatu
  • Biasakan berpikir sebelum berbicara
  • Latih diri memahami sudut pandang orang lain
  • Perbanyak membaca dan berdiskusi hal-hal yang bernilai
  • Amalkan ilmu yang sudah dipahami, meski sedikit

Di era penuh informasi dan perubahan yang cepat ini, kebijaksanaan adalah bekal penting untuk menjaga diri dan memberikan manfaat bagi sekitar. Kita tidak hanya dituntut untuk cerdas, tetapi juga bijak dalam bersikap dan mengambil keputusan.

Kebijaksanaan bukan milik segelintir orang. Seperti kisah Luqman, Ashabul Kahfi, dan cucu Rasulullah, siapa pun yang mau belajar dan membuka hati, bisa menjadi pribadi yang bijak.

"Mari belajar untuk hidup dengan kebijaksanaan.
Bukan hanya hidup yang lebih stabil, tapi juga lebih bermakna."

Belajar Bersama dalam Tadabbur, Menemukan Kebijaksanaan

Pengalaman saya belajar tentang wisdom ini berawal dari salah satu kegiatan tadabbur Al-Qur’an yang diinisiasi oleh Ustadz Nouman Ali Khan, melalui komunitas kontributor Bayyinah Indonesia. Kami rutin mengadakan sesi tadabbur setiap Ahad pagi, pukul 05.30–07.30 WIB, secara daring melalui Zoom.

Agenda yang diberi nama Story Morning ini menjadi ruang belajar yang sangat berkesan. Kami tidak hanya mendalami makna bahasa Arab dan tafsir ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan penjelasan Ustadz Nouman, tapi juga berdiskusi dan merefleksikan nilai-nilai tersebut sesuai sudut pandang dan pengalaman masing-masing.

Di sinilah kebijaksanaan terasa sangat hidup. Hikmah ayat-ayat Allah dikaitkan dengan realitas yang kita alami, baik dalam kehidupan pribadi maupun fenomena sosial kekinian. Gaya penyampaiannya juga santai, ramah, dan dekat dengan dunia anak muda—membuat sesi ini terasa akrab namun tetap mendalam.

Saya merasa sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari proses belajar ini. Meski masih dalam tahap memahami, saya berharap catatan sederhana ini bisa membawa manfaat bagi sahabat yang membacanya. Dan tentu, jika ada kekeliruan dalam penyampaian, mohon dengan rendah hati untuk dikoreksi.

Jazakumullahu khayran atas sudah berkenan membaca.
Semoga kita semua terus diberi taufik untuk hidup dengan kebijaksanaan yang dituntun oleh cahaya Al-Qur’an.

Monday, June 16, 2025

Hikmah ketiga Story Night Nouman Ali Khan 2024

 Berhala Perasaan

Ust. Nouman berkata: fenomena sekarang ini, yang jadi berhala baru dalam hidup adalah perasaan kita. Kita menempatkan perasaan setinggi langit. Self centered: Yang paling penting dalam hidupku adalah perasaanku, apa yang aku rasakan. Masa bodoh dengan kondisi dan perasaan orang lain, masa bodoh dengan norma dan nilai kehidupan, masa bodoh dengan aturan. Apapun yang menggangu perasaan dan kenyamananku adalah hal toxic, peduli amat benar atau salah. It is just about me and my feeling

Dalam konteks beragama, Kita hanya mau mengikuti aturan agama hanya ketika kita merasa happy dengannya. Atau kita hanya memilih aturan-aturan agama yang cocok untuk kita, cuma memilih yang membuat kita merasa senang dan nyaman. 

Ketika ada aturan agama yang menurut perasaan kita tidak menyenangkan, tidak masuk akal, tidak relevan dengan masa kini maka kita membuangnya.

Agama kita anggap layaknya warung prasmanan. Bebas pilih yang disuka, lalu buang sisanya.

Padahal hubungan kita dengan Allah tidak didasarkan pada rasa senang dan nyaman. Ada perjuangan, ketidaknyamanan dan kesusahan yang memang harus kita alami. Dan justru di situlah esensi hidup di dunia. Semuanya ujian, baik ketika senang maupun sedih, mudah maupun susah. 

Dan di setiap kondisi itulah Allah melihat kita, menilai kita. Mana yang rendah hati tetap tunduk beriman di setiap kondisi, mana yang kemudian lebih menuhankan perasaan dan rasa nyamannya sendiri. 

Hati-hati dengan berhala perasaan yang kita rawat diam-diam.
-----
Terimakasih sudah sampai di blog ini. Tulisan kak Aditya Priyahita ini saya share agar dapat diambil manfaatnya oleh student Qur'an yang mungkin belum bisa hadir saat Story Night di BSD tahun lalu, dan sudah mendapat izin dari pihak authornya untuk dibagikan ke kalian semua. 

Jangan lupa baca juga hikmah pertama, kedua, juga yaa dari Story Night 2024. Selamat membaca..

Hikmah Kedua Story Night Nouman Ali Khan 2024

Every story in the Qur'an is alive

Every story in the Qur'an is our story

It is not story about Fir'aun, Musa, Yusuf, Ibrahim, or Bani Israil, it is the story of us

Ya, kisah-kisah dalam Al Quran tidak pernah mati. Ia tak hanya menjadi artefak sejarah yang diletakkan di etalase museum. Ia tetap hidup, ia terjadi kembali, berulang-ulang. Bisa jadi pelaku dan waktunya berbeda, tapi prinsipnya sama, kaidahnya serupa. 

Saat acara story night kemarin saya benar-benar terpukau dan merinding. Sudah sejak SD saya hafal cerita bani israil dan Nabi Musa, tentang mengorbankan sapi betina, tentang Samiri dan patung sapi, tentang Nabi Musa berbicara dengan Allah, dan tentang tenggelamnya Fir'aun. 

Tapi saya tidak pernah tahu cerita tersebut sampai ke pemahaman yang seindah dan semendalam apa yang disampaikan Ust. Nouman Ali Khan. Tidak pernah paham sampai titik seaplikatif itu, dan serelevan itu dengan kehidupan kita sekarang.

Apa yang disampaikan Ust Nouman itu kayak Connecting the dots. Beberapa ayat dalam satu tema besar, yang tersebar di berbagai surat Al Qur'an, bisa dirangkai dalam satu alur cerita dan pemahaman yang indah banget. Dengerinnya kayak nonton film, part by part dijelaskan lalu di akhir ditaruhlah satu puzzle terakhir yang membuat cerita jadi utuh dan mempesona. Bikin mau nangis. 

Hal itu yang kemudian seharusnya membawa kita kepada kesadaran bahwa ketika kita mengkaji kisah-kisah dalam Al Qur'an jangan sampai cuma berhenti di tahap tahu kronologi peristiwa yang berakhir hanya sebagai pengetahuan semata. Harusnya kita mendalaminya, memikirkannya, merenungkannya. Baca tafsirnya, baca penjelasan dan hikmah yang disampaikan banyak ulama. 

Karena kisah-kisah dari Al Quran yang selama ini hanya kita anggap sebagai cerita masa lalu, hanya menjadi pelengkap pengetahuan agama, ternyata jika ditadabburi secara mendalam menyimpan hikmah istimewa yang bisa jadi merupakan jawaban atas pertanyaan hidup kita selama ini, bisa menjadi cahaya petunjuk bagi kita yang sekarang hilang arah pulang, atau menjadi oase luas yang menyejukkan kita yang lama dirundung dahaga.

----

Terimakasih sudah sampai di blog ini. Tulisan kak Aditya Priyahita ini saya share agar dapat diambil manfaatnya oleh student Qur'an yang mungkin belum bisa hadir saat Story Night di BSD tahun lalu, dan sudah mendapat izin dari pihak authornya untuk dibagikan ke kalian semua. 

Jangan lupa baca juga hikmah pertama di Resume Story Night part 1 juga ketiga dari Story Night 2024. Selamat membaca..

Belajar dari Student Qur'an Nouman Ali Khan (Story Night 2024)

Bani Israil dan Umat  Islam Hari Ini

Bagian Pertama

Dalam acara STORY NIGHT kemarin di BSD ust. Nouman Ali Khan menceritakan berbagai macam episode antara Nabi Musa dan Bani Israil. Banyak sekali hikmah, perenungan, dan pemahaman baru yang didapat dari runtutan kisah itu.  

Poin pertama yang saya dapat adalah tentang penyakit INFERIORITY COMPLEX. Bani Israil mengalami penindasan dan perbudakan yang lama oleh bangsa Mesir. Saking lamanya, mentalitas Bani Israil jadi jatuh ke titik terendah. Mereka merasa sangat inferior, tak berdaya dan rendah diri, padahal sejatinya Allah memberi kedudukan yang istimewa kepada Bani Israil.

Mereka adalah generasi yang lahir dan besar dalam perbudakan Mesir, di mana Firaun dan simbol-simbolnya menjadi pusat kehidupan. Mereka tidak memiliki referensi lain selain apa yang mereka lihat dan alami saat itu. 

Bani Israil dengan inferioritasnya terpukau melihat orang-orang Mesir yang kaya, maju, berpendidikan, berpakaian bagus, memiliki jabatan dan berkuasa. Mereka ingin menjadi seperti orang Mesir, dan mulai menirunya. Mereka mulai meniru cara berpakaian, cara berjalan, cara bicara, cara berpikir, bahkan cara beragama orang Mesir yang membuat mereka secara psikologis merasa memiliki strata yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Hilang jati diri mereka. 

Itulah ciri khas mentalitas bangsa terjajah terhadap penjajahnya. Hal yang sama bisa kita temukan dalam sejarah Indonesia. Banyak pribumi yang berpakaian, berbicara, bertingkah laku layaknya penjajah Belanda, semata mata agar merasa memiliki level lebih tinggi dari kebanyakan Inlander, dan bisa fit in, ikut bergaul di lingkungan bergengsi para kompeni, walaupun akhirnya mereka harus mengorbankan identitas asli mereka, nilai-nilai luhur otentik mereka, bahkan agama mereka. 

Dalam konteks bani Israil, perasaan inferioritas ini juga menyebabkan mereka tidak memiliki semangat untuk merdeka dan membebaskan diri dari penjajahan Mesir. Mereka tidak mampu melihat potensi diri dan kaumnya sehingga merasa lebih nyaman dalam penindasan daripada mengambil resiko untuk berusaha meraih kebebasan. Itulah sebabnya ketika Nabi Musa mengajak dan menuntun mereka untuk merdeka, mereka ogah-ogahan, mereka enggan. 

Dalam sejarah Indonesia pun serupa. Kita kenal dengan istilah londo ireng. Pribumi yang menggadaikan dirinya pada penjajah dan menjadi duri dalam daging perjuangan, alih-alih ikut berusaha membantu meraih kemerdekan. Dalam konteks saat ini, inferiority complex sekarang juga tengah menjangkiti sebagian umat Islam. Banyak individu atau kelompok Muslim yang karena merasa rendah atau tertinggal, mulai meniru nilai-nilai Barat dalam kehidupannya.

Mereka lebih mengejar dan mengutamakan kemajuan materialistik ala barat, serta banyak mengadopsi pemikiran barat seperti individualisme, hedonisme, sekulerisme dan konsumerisme, dan mengorbankan prinsip-prinsip dasar dalam Islam.

Mereka meninggalkan nilai agamanya sendiri dan lebih memilih membebek pada barat karena tidak memahami Islam dengan benar. Terdistorsi oleh pengaruh media dan arus informasi yang sangat masif menyudutkan dan memfitnah Islam dengan gincu retorikanya. Hal ini membuat banyak orang Islam merasa bahwa nilai dan sistem hidup mereka yang Islami tidak lagi relevan atau tidak cukup baik. Kalah jauh dibandingkan barat. 

Kondisi demikian menjadikan penting bagi umat Islam untuk belajar lagi dengan sungguh-sungguh, memahami Islam secara utuh menyeluruh dari sumber yang terpercaya, bukan malah terbawa narasi-narasi menyesatkan dari media dan pemikiran di luar Islam. 

Pelajari sejarah kejayaan dan keindahan Islam agar kita tidak tercerabut dan terasing dari identitas asli kita. Terapkan kaidah-kaidah yang menyebabkan umat Islam unggul di atas kaum lainnya sehingga bisa mengulang lagi kejayaan Islam. Pahami prinsip-prinsip dasar Islam serta akrabilah Al Quran. Perluas wawasan keislaman, mangambil ilmu dari banyak guru dan sumber bacaan terpercaya. 

Karena jika kita memahami Islam dengan benar, mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, kita akan terjauhkan dari penyakit inferiority complex tersebut. Kita tidak akan tertarik dan terpukau dengan konsep hidup di luar Islam, karena kita tahu betapa berharga dan luar biasa Islam itu. Betapa kita sudah sangat terpuaskan dengan Islam. Tanpa cela, tanpa cacat. Sempurna. 

Adalah konyol dan bodoh ketika kita memiliki bongkahan emas dan berlian, tapi malah membuangnya dan justru terpukau dengan kerikil yang berserak di pinggir jalan.

Tulisan : Aditya Priyahita (Student Qur'an Ustadz Nouman Ali Khan Indonesia)

---- 

baca juga kelanjutan poin kedua dari insight Kak Aditya di postingan berikutnya yaa..

Monday, December 22, 2014

Siapakah dia?



Sejuk gemericik air di padang gersang
Basah terasa aliri pipa yang kering
Hangat sentuhannya damai terasa
Menyertai langkah kita di sepanjang hayatnya

Kasih sayangnya sehangat mentari pagi
Belaian tangannya selembut angin sutra
Senyum manisnya hiburkan hati nan duka
Pandang matanya tajamkan hati nan suci

Ia adalah tawa disaat susah
Senyum di waktu sedih
Harapan di saat kecewa
Ramai di saat sepi
Cair di tengah kekakuan
Canda di tengah ketegangan

Cubitan kecil
Timangan sayang
Suapan hangat
Usapan lembut
Tepukan di pantat
Dan pandangan bahagianya melihat kelucuan kita

Luar biasa...
Semua adalah tiupan lembut nafas cinta
Tiupan yang mengantarkan kita ke gerbang kedewasaan
Meninggalkan rangkakan masa kanak
Berlari menuju kedewasaan

Ia adalah nafas yang lembut
Yang memekarkan kuncup menjadi bunga

Tapi kadang, kita sendiri
Adalah tangis di suatu kala untuknya
Yang sebenarnya tak pernah kita inginkan

Allah telah mewasiatkan orang tua kepada kita
Bukan untuk dibayar segala jasanya dengan harga
Memang siapa kita?
Sehingga bisa menghitungnya?
Dan siapa pula kita?
Sehingga mengaku-aku bisa mengganti semuanya?
Bukan itu!
Tidak akan pernah!

Ada harga lain yang mungkin tidak akan cukup
Tapi ia adalah nilai yang melampaui harga
kelima huruf penyusunnya: CINTA.






Friday, March 7, 2014

Special Names


Bismillaahirrahmanirrahiim...

Pagi tadi, menjadi terasa spesial saat aku dan Bapak duduk di ruangan itu. Kami menikmati Sabtu pagi berdua. Moment yang bisa dibilang langka selama aku menjadi mahasiswa. Karena biasanya Sabtu-Ahad adalah hari yang justru penuh dengan jadwal keluar. Dulu, sering sekali diskusi dengan Bapak, apalagi ketika malam hari. Diskusi kami bisa sampai larut malam bahkan. Namun kini, setiap ada kesempatan berdiskusi dengan Bapak, menjadi terasa istimewa. Mengingat Bapak juga makin sibuk dengan aktivitas kantornya. 

Kami duduk dan berdiskusi ditemani segelas susu jahe hangat. Terkadang Bapak-lah yang justru membuatnya lebih dulu, untuk beliau minum, kemudian disisakan untukku. Hehe... Bapak terlalu baik, seharusnya Nisa yang membuatkannya untuk Bapak. Saat itu kami mendiskusikan banyak hal, mulai dari pertanyaan seputar agama, pemilu, kondisi masyarakat saat ini dan lain-lain. Terkadang pendapatku berbeda dengan Bapak, tapi juga banyak yang sepemikiran. Dan sesekali Bapak membuatkku kagum dengan pemikirannya yang luarbiasa bijaksana. Bersyukur memiliki Bapak, ingin kelak punya suami seperti Bapak yang sabar, kreatif, suka membaca, bijaksana, dan taat.

Setelah lama berbincang,tiba-tiba terlihas satu pertanyaan yang sangat ingin kutanyakan. Lalu akhirnya kuberanikan bertanya hal itu padanya.Yang dalam bahasa Indonesia intinya seperti ini "Maaf Pak, dulu kenapa Bapak memberiku nama Anisa Fatimah?" Setelah kutanya padanya, beliau terdiam sejenak. Kemudian beliau menjawab, dan ternyata sungguh tulus doa yang ia berikan padaku.

Inti dari jawaban beliau begini, "Harapannya Allah membinamu dengan ilmu dan pengetahuan. Menjadi wanita yang terpisah dari segala jenis keburukan dan kekotoran. Dan supaya Allah memisahkan api neraka darimu dan dari para pecintamu. Bapak ingin kau menjad seperti Fatimah az-Zahra putri Rasulullah."

Aku menangis dalam hati. Aamiin, batinku.. Terharu dengan perkataan yang disampaikan Bapak. Masya Allah, sungguh tinggi sekali harapan Bapak terhadapku. Sedangkan, jika melihat kondisiku saat ini, aku merasa sangat jauh dari yang beliau inginkan. Ya Allah, Engkau satu-satunya tempatku meminta dan bergantung. Bimbing hamba mewujudkan harapan Bapak. Semoga apa yang ku usahakan saat ini Engkau ridho-i ya Allah.. Amiin..

Bapak, aku mencintaimu karena Allah... Jazakallahu khairan katsir. Terimakasih atas kerja kerasmu beserta Ibu membimbing dan merawatku hingga saat ini. Jasa Bapak-Ibu takkan pernah terbalas, sungguh sampai kapanpun takkan terbalas. Kami hanya mampu menghormati dan memuliakanmu selama kami hidup didunia ini. Semoga engkau sehat selalu dan berada dalam berlindungan dan kasih sayangNya. Barakallahufika... Aamiin...

#LoveAbi
#LoveUmmi
#LoveAllCozAllah


Thursday, March 6, 2014

Cerita tentang Bahaya yang Diam-diam Mengintai Kita

Waktu masih kuliah, saya pernah duduk di satu kelas sambil mendengarkan dosen bercerita tentang "guru besar". Biasanya yang dimaksud adalah profesor, sosok cerdas yang jadi panutan dalam dunia keilmuan. Tapi ada satu “guru besar” lain yang jauh lebih berpengaruh, lebih digandrungi, bahkan lebih ditakuti dampaknya. Dan anehnya, kita semua muridnya — sejak bayi sampai orang tua, dari rakyat biasa sampai pejabat tinggi.

Siapa “guru besar” itu? Televisi.

Coba kita jujur sebentar. Berapa jam dalam sehari yang kita habiskan untuk duduk manis menatap layar TV atau scrolling video dengan suguhan yang wow? Kita dibesarkan oleh tayangan yang serba gemerlap, penuh warna, penuh drama. Rasanya hidup tanpa televisi kayak hidup tanpa hiburan. Tapi, apakah semua yang kita tonton itu baik?

Dibalik tayangan yang “menghibur”, ada racun yang pelan-pelan masuk tanpa kita sadari. Televisi bukan cuma menyajikan berita atau sinetron, tapi juga memperkenalkan budaya kekerasan. Kita nonton adegan berkelahi, balas dendam, penipuan, atau gaya hidup hedonis. Dan yang menonton? Anak-anak kecil, remaja, bahkan orang dewasa. Tidak heran kalau tawuran remaja, geng motor, dan kekerasan di jalanan seperti salju yang menggelinding — makin lama makin besar.

Sialnya lagi, pendidikan agama di sekolah pun seringkali kurang kuat membekali anak-anak kita. Satu jam pelajaran agama kalah telak dengan lima jam nonton TV di rumah. Bahkan, di rumah pun suasana sering sepi dari bimbingan rohani. Banyak orang tua sibuk bekerja, dan anak-anak “dititipkan” pada benda kotak bernama televisi. Kalau bukan TV, ya gadget. Lebih canggih, lebih dekat, lebih personal. Dan isinya? Tidak semuanya baik.

Masalahnya bukan hanya tentang kekerasan. Kita mulai menginginkan hal-hal yang ada di layar. Perempuan mulai membandingkan suaminya dengan tokoh-tokoh drama yang kaya, romantis, ganteng, pokoknya sempurna. Laki-laki pun seringkali termakan gaya hidup mewah yang serba mengkilap, padahal kehidupan nyata seringkali penuh perjuangan. Dari sini, pertengkaran rumah tangga pelan-pelan menyusup. Banyak perceraian bukan karena tidak cinta, tapi karena ilusi yang dibentuk oleh layar kaca.

Belum cukup sampai di situ. Tayangan-tayangan mistis, horor, bahkan acara yang penuh unsur syirik begitu mudahnya masuk ke ruang tamu kita. Kita menonton orang minta rezeki di kuburan, minta keselamatan ke pohon besar, atau minta jodoh ke dukun berkedok ustadz. Semua ini perlahan menghancurkan akidah kita. Yang lebih menakutkan, semua itu dibalut dengan kata “hiburan”.

Di tengah zaman yang katanya modern, justru kepercayaan terhadap hal mistis semakin menjadi-jadi. Aneh, kan? Teknologi maju, tapi cara berpikir mundur. Dan sadarnya, setelah kehidupan kita terasa makin kosong.

Lalu, apa solusinya?

Bukan berarti kita harus membenci teknologi atau hidup di gua. Tapi kita harus pintar-pintar memilih mana tontonan yang layak, mana yang harus di-skip. Sebab, apa yang kita tonton hari ini, akan membentuk siapa diri kita besok. Jangan sampai, tanpa sadar, kita membesarkan generasi yang gagap akhlak, minim iman, dan rapuh akidahnya — semua karena kita abai terhadap racun yang kita konsumsi setiap hari.

Bimbingan agama, kebersamaan keluarga, dan kontrol diri jadi kunci penting. Jangan sampai TV lebih sering bicara kepada anak kita dibanding kita sendiri. Kalau mau generasi yang kuat, akidahnya kokoh, pikirannya cerdas, langkahnya lurus, ya mulai dari rumah. Mulai dari sekarang.

Karena “guru besar” bernama televisi ini tidak pernah libur mendidik — baik mendidik ke jalan kebaikan, atau justru menuntun perlahan ke jalan keburukan.

Pilihan ada di tangan kita.

Sumber Khusyu’ Ketika Sholat


oleh: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah-
[Pengasuh Ponpes Al-Ihsan Gowa, Sulsel]
Tuma’ninah (tenang), tanpa tergesa-gesa melakukan gerakan-gerakan sholat adalah perkara amat asasi dalam sholat, sebab orang yang meninggalkannya tak akan mendapatkan buah pahala dari sholatnya
, tak akan meraih khusyu’, dan malah mendapatkan dosa. Ia mendapatkan dosa karena sholatnya tak sah.
Perkara tuma’ninah dalam sholat sering dilalaikan oleh banyak orang saat ia melakukan sholat sehingga terkadang ia bagaikan seorang yang berolah raga saja, bahkan laksana ayam yang mematok makanannya. Begitu cepatnya ia bergerak dari rukun sholat ke rukun lainnya. Orang yang seperti ini tak akan mendapatkan sesuatu selain capek dan penat saja!!
Ada seorang sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang bernama Hudzaifah bin Al-Yaman -radhiyallahu anhu- pernah melihat seseorang yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya, karena ia tak tuma’ninah. Beliau berkata,
مَا صَلَّيْتَ وَلَوْ مُتَّ مُتَّ عَلَى غَيْرِ الْفِطْرَةِ الَّتِي فَطَرَ اللَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا
“Kamu belum sholat!! Andai kau mati, maka engkau akan mati di atas selain fitrah (Islam) yang Allah menciptakan Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- di atasnya”. [HR. Al-Bukhoriy (no. 791)]
Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkata, “Hadits ini dijadikan dalil tentang wajibnya tuma’ninah dalam rukuk dan sujud, dan bahwa melalaikannya adalah pembatal sholat serta (hadits ini menunjukkan) pengkafiran orang yang meninggalkan sholat, sebab lahiriahnya bahwa Hudzaifah meniadakan keislaman dari orang yang melalaikan sebagian rukun sholat. Jadi, peniadaan keislaman dari orang yang meninggalkan sholat secara total adalah lebih utama”. [Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (2/275)]
Hadits ini serupa dengan hadits al-musii’ sholatah (orang yang merusak sholatnya) sebagaimana yang terdapat sebuah hadits dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhu-, ia berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ السَّلَامَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

“Sesungguhnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah masuk masjid. Lalu masuk pula seorang laki-laki untuk sholat. Setelah itu, ia datang seraya mengucapkan salam kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Beliau pun menjawab salamnya seraya bersabda, “Kembalilah!! Sholat lagi, karena sesungguhnya engkau belum sholat (sebanyak tiga kali). Akhirnya, orang itu berkata, “Demi (Allah) Yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tak mampu melakukan selain itu. Karenanya, ajarilah aku”. Beliau bersabda, “Jika kamu bangkit menuju sholat, makasempurnakanlah sholatmu, lalu menghadaplah ke kiblat. Kemudian bacalah sesuatu yang mudah bagimu berupa (bacaan) al-Qur’an. Kemudian rukuklah sampai engkau tuma’ninah (tenang) dalam posisi rukuk. Kemudian bangkitlah sampai engkau tegak berdiri. Kemudian sujudlah sampai tuma’ninah dalam kondisi sujud. Kemudian angkatlah (kepalamu) sampai kamu tenang dalam keadaan duduk. Kemudian sujudlah sampai tuma’ninah dalam kondisi sujud. Kemudian lakukanlah hal serupa dalam sholatmu seluruhnya”.
[HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 757 & 793), Muslim dalam Shohih-nya (no. 397), Abu Dawud dalam As-Sunan(no. 856), At-Tirmidziy dalam As-Sunan(no. 303), An-Nasa’iy dalam Al-Mujtaba(2/124) dan Ibnu Majah dalamSunan-nya (no.1060)]
Di dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya tuma’ninah dan bahwa barangsiapa yang meninggalkannya, maka ia belum dianggap mengerjakan sesuatu yang diperintahkan kepadanya. Lantaran itu, ia tetap dituntut dalam melakukan perintah (sholat) itu. Renungkanlah perintah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada orang itu untuk tuma’ninah dalam rukuk dan posisi tegak berdiri dari rukuk. Karena, tak cukup hanya sekedar tuma’ninah dalam rukun bangkit sampai engkau berdiri tegak. Beliau tak mencukupkan hanya menetapkan sholat dengan sekedar bangkit (dari rukuk) sampai ia melakukannya secara sempurna, saat ia tegak berdiri padanya. [Lihat Ash-Sholah wa Hukm Tarikihah (hal. 138-139)]
Kesalahan seperti ini (yakni tak tuma’ninah dalam posisi bangkit dari rukuk), telah terjerumus ke dalamnya orang-orang punya kedudukan atau dianggap sebagai orang berilmu, khususnya dalam sholat nafilah.
Al-Imam Abu abdillah Al-Qurthubiy -rahimahullah- berkata, “Selayaknya bagi seorang manusia untuk memperbaiki sholat fardhu dan nafilah-nya sehingga ia memiliki naflun (tambahan pahala) yang ia akan jumpai sebagai tambahan bagi sholat fardhunya, dan akan mendekatkannya kepada Robb-nya sebagaimana yang difirman oleh Allah -Subhanahu wa Ta’ala-, “Senantiasa hamba-Ku akan mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunnah)sampai Aku mencintainya…”[HR. Al-Bukhoriy]
Jika terdapat amalan nafilah (tambahan) yang sempurna sholat fardhu dengannya, maka hukumnya dalam sisi makna sama dengan hukum sholat fardhu.Barangsiapa yang tak mampu mengerjakan sholat dengan baik, maka tentunya ia lebih utama tak mampu mengerjakan sholat nafilah dengan baik. Karenanya, tak heran jika sholat nafilah orang-orang sangat kurang dan rusak, karena ringannya sholat itu di sisi mereka, dan peremehan mereka terhadap sholat sampai sholat nafilah itu seakan tidak diperhitungkan lagi!! Sungguh telah disaksikan di alam nyata orang yang diberi isyarat (yakni, punya kedudukan) dan dianggap berilmu, sedang sholat nafilahnya seperti itu, bahkan sholat fardhunya juga. Sebab ia mematok sholatnya seperti patokan ayam, karena ia tidak tahunya tentang hadits. Nah, bagaimana lagi dengan orang-orang bodoh yang tidak berilmu?! Sungguh para ulama berkata, “Tak akan sah rukuk, sujud, berdiri setelah bangkit dari rukuk dan duduk diantara dua sujud sampai ia tegak dalam posisi rukuk, berdiri, sujud dan duduk”. Inilah yang benar menurut atsar (hadits), dipijaki oleh mayoritas ulama dan para peneliti”. [Lihat Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (11/124-125)]

Para pembaca yang budiman, pencuri-pencuri sholat di zaman ini amat banyak kita saksikan di saat kita menghadiri sholat berjama’ah di masjid-masjid kaum muslimin. Mereka sholat dengan cepat laksana ayam mematok makanannya dengan lincah. Padahal sholat cepat tanpa tuma’ninah seperti ini amat dilarang oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Bahkan beliau mengabarkan kepada kita bahwa itu adalah cara sholatnya kaum munafiqin.
Alaa’ bin Abdir Rahman mengatakan bahwa ia pernah masuk menemui Anas bin Malik di rumah, di kota Bashroh ketika beliau sudah sholat zhuhur, sedang rumahnya di samping masjid. Tatkala kami masuk menemui beliau, maka beliau berkata, “Apakah kalian telah sholat Ashar?” Kami katakan kepada beliau, “Kami tadi baru usai sholat zhuhur”. Beliau berkata, “Sholat Ashar-lah kalian!!” Lalu kami pun sholat Ashar. Tatkala usai sholat, beliau berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلاً
“Itulah sholat orang munafiq; ia duduk menunggu matahari (akan terbenam) sampai jika matahari telah berada diantara dua tanduk setan, maka ia (si munafiq) berdiri (sholat) seraya mematok (mempercepat) sholatnya empat kali sujud, sedang ia tak mengingat Allah di dalamnya, kecuali sedikit”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 622), At-Tirmidziy dalam Al-Jami’ (no. 160) dan An-Nasa’iy dalam Al-Mujtana (1/254)]
Al-Imam Al-Mubarokfuriy -rahimahullah- berkata dalam menukil ucapan Penulis Al-Arf Asy-Syadziy, “Ini menunjukkan tentang wajibnya menegakkan rukun-rukun sholat, karena syariat telah menganggap sujud yang berjumlah delapan, namun kosong dari duduk (diantara dua sujud) sebagai empat kali sujud”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy Syarh Sunan at-Tirmidziy (1/190)]
Para pembaca yang budiman, kondisi orang yang mematok sholat sebagaimana yang terlihat pada sebagian orang yang sholat, ia melewati rukun-rukun sholat bagaikan melesatnya anak panah; tidak melebihi ucapan “Allahu Akbar” saat rukuk dan sujud, karena saking cepatnya. Hampir saja sujudnya melampaui rukuknya; rukuknya hampir mendahului bacaannya. Terkadang juga ia menyangka bahwa hanya sekali bertasbih lebih utama dibandingkan tiga kali!!
Demi Allah, sungguh kami telah mendengar berkali-kali dari orang yang dijadikan panutan di sebagian perkampungan, kami mendengarnya mengucapkan tahmid (sami’allahu liman hamidah) ketika dahinya sudah hampir merapat ke tanah. Kami mendengarnya mengucapkan, “amiin” ketika turun rukuk. Seakan-akan orang ini ada yang mengejarnya dengan tongkat, sedang ia tak tahu dengan perbuatannya seperti orang yang berolok-olok dan bermain dalam sholatnya.
Konon kabarnya, ada sebuah kisah dari mereka bahwa ia pernah melihat seorang bocah sedang tuma’ninah dalam sholatnya, lalu ia pun memukul bocah itu seraya berkata kepada sang bocah, “Andai engkau diutus oleh sultan dalam suatu tugas, apakah kamu lamban dalam tugasmu seperti lambanmu ini?!”
Sungguh ini semua adalah sikap mempermainkan sholat, meniadakan sholat dan tipuan dari setan serta menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya saat Allah -Ta’ala- berfirman,
وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ  [البقرة : 43]
 “Dan Dirikanlah shalat…” (QS. Al-Baqoroh: 43)
Jadi, Allah memerintahkan kita untuk menegakkan sholat, yaitu melaksanakan sholat secara sempurna berdiri, rukuk, sujud dan dzikirnya. Dengan kata lain, ia melaksanakan rukun-rukun, kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah sholatnya.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- sungguh telah mempersyaratkan keberuntungan dengan adanya khusyu bagi orang yang sholat dalam sholatnya. Barangsiapa yang terluput dari khusyu’, maka ia bukan orang-orang yang beruntung. Nah, tentunya mustahil akan ada khusyu’ dengan adanya ketergesa-gesaan dan cepat. Bahkan tak akan tercapai khusyu’ sama sekali, kecuali disertai tuma’ninah. Setiap kali bertambah tuma’ninahnya, maka khusyu’-nya juga akan bertambah. Setiap kali sedikit khusyu’nya, maka ketergesa-gesaannya akan semakin cepat sampai gerakan tangannya menjadi seperti bermain-main yang tak dibarengi dengan khusyu’ dan tidak fokusnya ia kepada ibadah. [Lihat Akhtho’ Al-Mushollin (hal. 122-123)]

sumber: http://shirotholmustaqim.wordpress.com/

Saturday, March 1, 2014

Aku Biasa-Biasa Saja

Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa, menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik).
Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasa interpersonal?
Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekalin tidak ada pontennya (nilainya) di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian kuantitatif.
Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja namanya Fani (6,5 tahun), kelas I SD. Ia memiliki banyak sekali teman. Dan ia pun tidak bermasalah harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul dengan siapa saja dilingkungan rumahnya. Ada satu hal yang menarik saat ia bercerita tentang teman-temannya.
"Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu...! Pinter Matematika, Bahasa Indonesia, Menggambar....pokoknya pinter sekali....!" katanya santai. Vivi juga pintar sekali menggambar, gambarnya bagus ...sekali! Kalau si Yahya hfalannya banyaaak... sekali!"
Ya memang fani senang sekali membanggakan teman-temannya. Ketika mendengar celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya, " Kalau mbak Fani pinter apa?" Ia menjawab dengan cengiran khasnya," Hehehe...kalau aku, sih, biasa-biasa saja".
Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi anda, tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya fani memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran prestasi scholastic.
Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Fani sering diminta bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar.
Bahkan ketika dua orang adiknya, Farah (4,5 tahun) dan Fadila (2,5 tahun) bertengkar. Fani langsung turun tangan. "Sudah..! sudah, Dek! sama saudara tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siap yang mulai?" Adiknya saling tunjuk."Hayo, jujur ...1Jujur itu disayang Allah..! Sekarang salaman ya... saling memaafkan".
Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah komentarnya!
"Wah bajunya bagus-bagus ya Bu? Aku sebenarnya pengin, tapi bajuku dirumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan Ibu sudah punya rezeki, aku minta dibelikan ..."
Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya, subhanallah anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan, sebagai salah satu ciri kecerdasan emosional.
Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini kepada anda, karena betapa banyak dari kita yang mengabaikan kecerdasan-kecerdasan emosional seperti itu. Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan pegawai, yang lebih banyak diterima adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.
Kadang kita merasa rendah diri manakal anak kita tidak mencapai ranking sepuluh besar disekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang sendiri, sombong, suka menipu atau tidak biasa bergaul.
Maka ketika Fani mengatakan "AKU BIASA-BIASA SAJA", maka saat itu ibunya menjawab "Alhamdulillah, mbak Fani suka menolong teman-teman, tidak sombong, mau bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak Fani, diteruskan dan disyukuri ya..?" Ya... ibunya ingin mensupport dan memberikan reward yang positif bagi Fani. Karena kita tahu anak-anak kita adalah amanah dan suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan bagaimana kita menjaga amanah. Sebagaimana doa kita setiap hari agar anak-anak menjadi penyejuk mata dan hati.
Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalau belum mulailah dari diri kita, saat ini juga.

http://informatika.stei.itb.ac.id/~rinaldi.munir/Koleksi/Artikel/Aku%20Biasa-biasa%20Saja.htm
Hidup lebih dari harus sekedar tetap hidup. Masalahnya, bagaimana membuat hidup itu bermakna, memancarkan cahaya gemilang ke masa depan, sekalipun harus mengorbankan hidup itu sendiri. Bila ini sudah tercapai, maka tidak ada bedanya dengan berapa lama hidup itu. (Mushashi)

Friday, February 21, 2014

Salman Al Farisi, Teladan Kesederhanaan dalam Dakwah

Salman Al Farisi, Teladan Kesederhanaan dalam Dakwah






Suatu hari, ketika sedang berjalan di suatu jalan, dia berjumpa dengan seorang laki-laki dari negeri Syam yang membawa sepikul buah tin dan kurma. Rupanya beban itu amat berat, sehingga melelahkannya.
Ketika orang Syam itu melihat laki-laki yang berpenampilan biasa dan tampak dari golongan orang tak punya, ia berpikir hendak menyuruh laki-laki itu membawa buah-buahan dengan imbalan yang pantas sesampainya di tempat tujuan. Orang Syam itu memanggil lelaki tersebut, dan Si lelaki mendekat.
Orang Syam itu berkata kepadanya, “Tolong bawakan barangku ini.” Maka Si lelaki mengangkat barang yang disuruh oleh orang Syam, dan mereka berdua berjalan bersama-sama.
Di tengah perjalanan mereka berpapasan dengan satu rombongan. Si Lelaki berpenampilan biasa itu mengucapkan salam kepada rombongan, mereka berhenti dan menjawab salam, “Kesejahteraan juga untuk walikota.” Orang Syam yang bersama Si lelaki bertanya dalam hatinya, “Juga kepada walikota? Siapa yang mereka maksud?” Keheranannya semakin bertambah ketika beberapa orang dari rombongan bergegas mendekat dan berkata, “Biarkan kami yang membawanya.”
Barulah orang Syam itu sadar, bahwa kuli panggulnya itu adalah seorang walikota Madain. Orang Syam itu pun menjadi gugup, kata-kata penyesalan dan permintaan maaf mengalir dari bibirnya. Dia mendekat hendak mengambil beban yang di bawa Si lelaki suruhannya, tetapi Sang walikota menolak dan berkata, “Tidak, biar kuantar sampai rumahmu.”
Sepenggal kisah ini adalah cuplikan dari sebagian sirah perjalanan kehidupan seorang sahabat Rasulullah saw yang sangat terkenal di dalam pencariannya terhadap kebenaran. Siapakah walikota yang berpenampilan biasa dan tampak dari golongan orang tak punya tersebut?
Dialah Salman Al-Farisi seorang sahabat Rasulullah yang rela meninggalkan negerinya dan mengalami perjuangan berat demi mencari kebenaran. Kisah sahabat yang mulia ini di dalam pencariannya terhadap suatu kebenaran sudah tidak asing lagi di telinga para aktivis dakwah, bahkan sering sekali kisahnya ini dijadikan taujih pembangkit semangat untuk para aktivis dakwah di dalam menempuh jalan panjang ini.
Sahabat yang mulia ini tak kalah zuhudnya dibandingkan sahabat Rasulullah lainnya di dalam menjalani kehidupannya. Karena beliau sadar betul, bagaimana kesederhanaan itu sangat berpengaruh di dalam dakwah ilallah, sehingga hatinya selalu teringat akan pesan Rasulullah kepadanya dan kepada semua sahabat, agar mereka tidak dikuasai oleh dunia dan tidak mengambil dunia kecuali, sekedar bekal seorang musafir. Ternyata inilah yang telah mengisi hati seorang Salman Al-Farisi, sehingga ia tidak mau mendekati kekayaan dan jabatan.
Sekalipun ia menerima jabatan sebagai walikota Madain pada saat itu, apakah kehidupannya dan karakternya berubah? Tidak, sama sekali tidak ada yang berubah di dalam kehidupannya dan karakternya. Ia sama seperti yang biasa para sahabat Rasulullah lihat sebagai Salman yang memiliki penampilan sederhana, sesederhana penampilannya sebelum diangkat sebagai walikota.
Bahkan ia sampai disangka kuli oleh seseorang yang berasal dari Syam, karena melihat Salman berpenampilan biasa dan tampak dari golongan orang tak punya, karenanya orang Syam itu tak segan-segannya menyuruh membawakan barang-barangnya kepada sahabat Rasulullah yang mulia ini, yang ternyata dia adalah seorang walikota. Sahabat yang mulia ini seketika identitasnya sebagai walikota diketahui oleh orang Syam yang menyuruhnya, ia menolak untuk barang yang sudah ia bawakannya di ambil kembali oleh orang Syam tersebut, namun apa yang dikatakan sahabat yang mulia ini kepada orang Syam tersebut, ketika ia mendekat hendak mengambil barang bawaannya yang dibawakan oleh walikota Madain itu? Ia berkata, “Tidak, biar kuantarkan barang bawaanmu sampai pada rumahmu.”
Betapa mulianya sahabat Rasulullah ini, kesederhanaannya mengalahkan ambisi akan kenikmatan dunia. Lihatlah gamisnya yang pendek, hanya sampai lutut. Padahal saat itu ia orang yang dihormati dan disegani. Gaji yang diterimanya juga tidak sedikit: antara 4.000-6.000 dinar setahun. Namun, semuanya ia bagikan. Tidak sedikit pun ia ambil untuk kepentingan dirinya. Lalu mengapa setelah memegang jabatan itu, ia tidak mau menerima tunjangan yang diberikan secara halal?
Hisyam bin Hisan menyebutkan bahwa Hasan pernah mengatakan bahwa tunjangan Salman sebesar lima ribu dinar setahun. Namun demikian, ketika dia berpidato di hadapan 30 ribu orang, separuh baju luarnya (aba’ah) ia jadikan alas duduk, dan separuhnya lagi untuk menutupi badannya. Tunjangan hidup yang ia terima, ia bagi-bagikan sampai habis, sedangkan untuk nafkah keluarganya dia peroleh dari hasil usahanya sendiri.
Wahai para pengikut Muhammad SAW.!
Wahai para aktivis dakwah!
Wahai para pemimpin muslim!
Wahai kalian yang mengagungkan kemanusiaan!
Bukankah Rasulullah mengajarkan kesederhanaan di dalam perjuangan ini?
Bukankah Sahabat Rasulullah yang mulia ini sudah kita membacanya di dalam sirahnya?
Bukankah Salman Al-Farisi seorang walikota Madain sudah mencontohkan kesederhanaan di dalam perjuangan dakwah ini?
Ketika mendengar kehidupan generasi sahabat yang amat bersahaja seperti Abu Bakar, Umar, Abu Dzar dan lainnya, sebagian kita menyangka bahwa itu disebabkan karakter hidup di Jazirah Arab saat itu, karakter hidup yang bersahaja. Istighfarlah jika ada berprasangka seperti ini.
Akan tetapi, sepenggal kisah ini adalah kisah seorang sahabat Rasulullah yang ia adalah seorang putra Persia. Suatu negeri yang terkenal dengan kemewahan dan kesenangan hidup. Dan ia bukan dari golongan miskin. Ia dari golongan kaya. Mengapa dia sekarang menolak kekayaan dan kesenangan, bertahan dalam kehidupan bersahaja, merasa cukup dengan satu dirham untuk mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya? Satu dirham itu pun ia peroleh dari hasil jeri payahnya sendiri.
Dengarkanlah perkataannya jikalau hati ini masih ragu, “Aku membeli daun kurma seharga satu dirham. Daun itu kubuat keranjang. Kemudian kujual dengan harga tiga dirham. Satu dirham kugunakan untuk modal usaha, satu dirham untuk nafkah keluargaku, dan satu dirham lagi untuk sedekah. Meskipun Khalifah Umar ra. melarangku berbuat demikian, aku tidak mau menghentikannya.”
Selayaknya kita sebagai aktivis dakwah harus mencontoh dan meneladani kesederhanan para sahabat Rasulullah di dalam perjuangan ini, sebab fitnah itu muncul bisa jadi karena kita berlebih-lebihan di dalam memperjuangkan dakwah ini dan dalam menyikapi nikmat kehidupan dunia yang diberikan Allah untuk kita.
Rasulullah dan para sahabatnya mencontohkan kesederhaanan dalam menyikapi nikmat kehidupan di dunia agar menjauhkan diri serta menjaga dari fitnah-fitnah yang senantiasa ada di setiap kehidupan para pejuang dakwah di dalam meneggakan panji-panji Islam di seluruh belahan dunia, karena musuh yang kita hadapi sekarang adalah para syaithan yang berwujud manusia yang memiliki sistem, strategi dan teknologi yang kuat dan canggih.
Ingatlah ketika sahabat yang mulia ini, Salman menjawab pertanyaan Sa’ad bin Abi Waqqash saat ia menjenguk sahabatnya yang mulia ini terbaring di atas tempat tidur, sesaat sebelum ajal menjemputnya, sesaat sebelum jiwa mulianya bertemu dengan Tuhan Yang Maha Tinggi dan Maha Penyayang. Saat itu, Sa’ad bin Abi Waqqash datang menjenguknya. Tiba-tiba Salman menangis.
“Apa yang kamu tangiskan, wahai Abu Abdillah (panggilan Salman)? Padahal saat Rasulullah saw. wafat, beliau ridha kepadamu?”
Salman menjawab, “Aku menangis bukan karena takut mati atau mengharap kemewahan dunia. Rasulullah saw telah menyampaikan suatu pesan kepada kita, “Hendaklah bagian kalian dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang musafir.” Padahal harta milikku seperti ini banyaknya.”
Sa’ad menceritakan, “Aku perhatikan, tidak ada yang tampak di sekelilingku kecuali satu piring dan satu baskom. Lalu aku berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdillah, berilah kami nasihat yang akan selalu kami ingat.”
Dia berkata, “Wahai Sa’ad, ingatlah Allah ketika kamu ingin sesuatu, ketika kamu memberikan keputusan, dan ketika membagi.”
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya tanaman-tanaman bumi karena air itu; di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami pada waktu malam dan siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanaman-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.” (QS. Yunus [10]: 24)
Wallahu a’lam bishshowwab.


www.al-hikmah.ac.id.