Kata “wisdom” atau kebijaksanaan sering kita dengar dalam banyak konteks. Namun, apa sebenarnya makna kebijaksanaan itu dalam kehidupan sehari-hari?
Dalam sebuah kajian, Ustadz Nouman Ali Khan menyampaikan bahwa:
"Wisdom is keeping something from falling apart."
Kebijaksanaan adalah kemampuan menjaga sesuatu agar tetap utuh, tidak hancur.
Ilustrasi sederhana yang beliau berikan adalah tentang dagu. Dagu menjaga bentuk wajah agar tetap proporsional. Bayangkan jika wajah manusia tidak memiliki dagu—tentu akan tampak aneh dan tidak seimbang. Begitu pula dalam hidup, kebijaksanaan menjaga kita agar tidak kehilangan arah, tetap utuh secara mental, emosional, dan sosial.
Apa Saja Ciri-Ciri Kebijaksanaan?
Dari berbagai literatur, wisdom memiliki beberapa unsur penting, antara lain:
-
Nasihat yang baik (Good advice)
-
Bersikap adil (Justice)
-
Keputusan yang tepat dan tegas (Decisive judgment)
-
Dapat dipercaya dan komunikatif (Trustworthy & Clarity)
-
Mengetahui sesuatu dan mampu mengamalkannya (Knowledge & Action)
Kebijaksanaan bukan hanya tentang mengetahui hal yang benar, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi yang tepat.
Teladan Wisdom dalam Al-Qur’an
1. Nabi Sulaiman a.s. – Bijak dalam Mengambil Keputusan
Dalam satu kisah, Nabi Sulaiman menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menyelesaikan sengketa antara dua orang wanita yang memperebutkan seorang bayi. Beliau tidak hanya adil, tetapi juga berpikir strategis dan penuh pertimbangan. Ini adalah contoh nyata dari keputusan bijak yang menyelamatkan keadaan.
2. Luqman al-Hakim – Bijak dalam Mendidik Anak
Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan dalam Al-Qur’an karena nasihat-nasihatnya yang sangat dalam kepada anaknya. Hal ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan adalah karunia yang bisa diberikan kepada siapa saja, selama ia mau belajar dan memahami kehidupan.
3. Ashabul Kahfi – Bijak dalam Menjaga Iman
Kelompok pemuda ini memilih meninggalkan keramaian kota demi menjaga keyakinan mereka. Mereka tidak mengikuti arus masyarakat yang penuh penyimpangan. Sikap mereka mencerminkan keteguhan hati dan kemampuan melihat jauh ke depan, meskipun harus berkorban kenyamanan.
4. Hasan dan Husain – Bijak dalam Menyampaikan Kritik
Ketika melihat seseorang yang keliru dalam berwudhu, mereka tidak langsung menyalahkan. Sebaliknya, mereka menyampaikan koreksi dengan cara halus dan penuh adab. Ini contoh bahwa kebijaksanaan juga berkaitan erat dengan cara kita memperlakukan orang lain dengan baik dan hormat.
Bagaimana Kita Bisa Belajar Menjadi Bijak?
Kebijaksanaan bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia perlu dilatih dan dipraktikkan. Berikut beberapa cara sederhana:- Belajar untuk tidak tergesa-gesa dalam merespons sesuatu
- Biasakan berpikir sebelum berbicara
- Latih diri memahami sudut pandang orang lain
- Perbanyak membaca dan berdiskusi hal-hal yang bernilai
- Amalkan ilmu yang sudah dipahami, meski sedikit
Di era penuh informasi dan perubahan yang cepat ini, kebijaksanaan adalah bekal penting untuk menjaga diri dan memberikan manfaat bagi sekitar. Kita tidak hanya dituntut untuk cerdas, tetapi juga bijak dalam bersikap dan mengambil keputusan.
Kebijaksanaan bukan milik segelintir orang. Seperti kisah Luqman, Ashabul Kahfi, dan cucu Rasulullah, siapa pun yang mau belajar dan membuka hati, bisa menjadi pribadi yang bijak.
"Mari belajar untuk hidup dengan kebijaksanaan.
Bukan hanya hidup yang lebih stabil, tapi juga lebih bermakna."
Belajar Bersama dalam Tadabbur, Menemukan Kebijaksanaan
Pengalaman saya belajar tentang wisdom ini berawal dari salah satu kegiatan tadabbur Al-Qur’an yang diinisiasi oleh Ustadz Nouman Ali Khan, melalui komunitas kontributor Bayyinah Indonesia. Kami rutin mengadakan sesi tadabbur setiap Ahad pagi, pukul 05.30–07.30 WIB, secara daring melalui Zoom.
Agenda yang diberi nama Story Morning ini menjadi ruang belajar yang sangat berkesan. Kami tidak hanya mendalami makna bahasa Arab dan tafsir ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan penjelasan Ustadz Nouman, tapi juga berdiskusi dan merefleksikan nilai-nilai tersebut sesuai sudut pandang dan pengalaman masing-masing.
Di sinilah kebijaksanaan terasa sangat hidup. Hikmah ayat-ayat Allah dikaitkan dengan realitas yang kita alami, baik dalam kehidupan pribadi maupun fenomena sosial kekinian. Gaya penyampaiannya juga santai, ramah, dan dekat dengan dunia anak muda—membuat sesi ini terasa akrab namun tetap mendalam.
Saya merasa sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari proses belajar ini. Meski masih dalam tahap memahami, saya berharap catatan sederhana ini bisa membawa manfaat bagi sahabat yang membacanya. Dan tentu, jika ada kekeliruan dalam penyampaian, mohon dengan rendah hati untuk dikoreksi.
Jazakumullahu khayran atas sudah berkenan membaca.
Semoga kita semua terus diberi taufik untuk hidup dengan kebijaksanaan yang dituntun oleh cahaya Al-Qur’an.
No comments:
Post a Comment