Bani Israil dan Umat Islam Hari Ini
Bagian Pertama
Dalam acara STORY NIGHT kemarin di BSD ust. Nouman Ali Khan menceritakan berbagai macam episode antara Nabi Musa dan Bani Israil. Banyak sekali hikmah, perenungan, dan pemahaman baru yang didapat dari runtutan kisah itu.
Poin pertama yang saya dapat adalah tentang penyakit INFERIORITY COMPLEX. Bani Israil mengalami penindasan dan perbudakan yang lama oleh bangsa Mesir. Saking lamanya, mentalitas Bani Israil jadi jatuh ke titik terendah. Mereka merasa sangat inferior, tak berdaya dan rendah diri, padahal sejatinya Allah memberi kedudukan yang istimewa kepada Bani Israil.
Mereka adalah generasi yang lahir dan besar dalam perbudakan Mesir, di mana Firaun dan simbol-simbolnya menjadi pusat kehidupan. Mereka tidak memiliki referensi lain selain apa yang mereka lihat dan alami saat itu.
Bani Israil dengan inferioritasnya terpukau melihat orang-orang Mesir yang kaya, maju, berpendidikan, berpakaian bagus, memiliki jabatan dan berkuasa. Mereka ingin menjadi seperti orang Mesir, dan mulai menirunya. Mereka mulai meniru cara berpakaian, cara berjalan, cara bicara, cara berpikir, bahkan cara beragama orang Mesir yang membuat mereka secara psikologis merasa memiliki strata yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Hilang jati diri mereka.
Itulah ciri khas mentalitas bangsa terjajah terhadap penjajahnya. Hal yang sama bisa kita temukan dalam sejarah Indonesia. Banyak pribumi yang berpakaian, berbicara, bertingkah laku layaknya penjajah Belanda, semata mata agar merasa memiliki level lebih tinggi dari kebanyakan Inlander, dan bisa fit in, ikut bergaul di lingkungan bergengsi para kompeni, walaupun akhirnya mereka harus mengorbankan identitas asli mereka, nilai-nilai luhur otentik mereka, bahkan agama mereka.
Dalam konteks bani Israil, perasaan inferioritas ini juga menyebabkan mereka tidak memiliki semangat untuk merdeka dan membebaskan diri dari penjajahan Mesir. Mereka tidak mampu melihat potensi diri dan kaumnya sehingga merasa lebih nyaman dalam penindasan daripada mengambil resiko untuk berusaha meraih kebebasan. Itulah sebabnya ketika Nabi Musa mengajak dan menuntun mereka untuk merdeka, mereka ogah-ogahan, mereka enggan.
Dalam sejarah Indonesia pun serupa. Kita kenal dengan istilah londo ireng. Pribumi yang menggadaikan dirinya pada penjajah dan menjadi duri dalam daging perjuangan, alih-alih ikut berusaha membantu meraih kemerdekan. Dalam konteks saat ini, inferiority complex sekarang juga tengah menjangkiti sebagian umat Islam. Banyak individu atau kelompok Muslim yang karena merasa rendah atau tertinggal, mulai meniru nilai-nilai Barat dalam kehidupannya.
Mereka lebih mengejar dan mengutamakan kemajuan materialistik ala barat, serta banyak mengadopsi pemikiran barat seperti individualisme, hedonisme, sekulerisme dan konsumerisme, dan mengorbankan prinsip-prinsip dasar dalam Islam.
Mereka meninggalkan nilai agamanya sendiri dan lebih memilih membebek pada barat karena tidak memahami Islam dengan benar. Terdistorsi oleh pengaruh media dan arus informasi yang sangat masif menyudutkan dan memfitnah Islam dengan gincu retorikanya. Hal ini membuat banyak orang Islam merasa bahwa nilai dan sistem hidup mereka yang Islami tidak lagi relevan atau tidak cukup baik. Kalah jauh dibandingkan barat.
Kondisi demikian menjadikan penting bagi umat Islam untuk belajar lagi dengan sungguh-sungguh, memahami Islam secara utuh menyeluruh dari sumber yang terpercaya, bukan malah terbawa narasi-narasi menyesatkan dari media dan pemikiran di luar Islam.
Pelajari sejarah kejayaan dan keindahan Islam agar kita tidak tercerabut dan terasing dari identitas asli kita. Terapkan kaidah-kaidah yang menyebabkan umat Islam unggul di atas kaum lainnya sehingga bisa mengulang lagi kejayaan Islam. Pahami prinsip-prinsip dasar Islam serta akrabilah Al Quran. Perluas wawasan keislaman, mangambil ilmu dari banyak guru dan sumber bacaan terpercaya.
Karena jika kita memahami Islam dengan benar, mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, kita akan terjauhkan dari penyakit inferiority complex tersebut. Kita tidak akan tertarik dan terpukau dengan konsep hidup di luar Islam, karena kita tahu betapa berharga dan luar biasa Islam itu. Betapa kita sudah sangat terpuaskan dengan Islam. Tanpa cela, tanpa cacat. Sempurna.
Adalah konyol dan bodoh ketika kita memiliki bongkahan emas dan berlian,
tapi malah membuangnya dan justru terpukau dengan kerikil yang berserak di
pinggir jalan.
Tulisan : Aditya Priyahita (Student Qur'an Ustadz Nouman Ali Khan Indonesia)
----
baca juga kelanjutan poin kedua dari insight Kak Aditya di postingan berikutnya yaa..
No comments:
Post a Comment