Berhala Perasaan
Ust. Nouman berkata: fenomena sekarang ini, yang jadi berhala baru dalam
hidup adalah perasaan kita. Kita menempatkan perasaan setinggi langit. Self
centered: Yang paling penting dalam hidupku adalah perasaanku, apa yang
aku rasakan. Masa bodoh dengan kondisi dan perasaan orang lain, masa
bodoh dengan norma dan nilai kehidupan, masa bodoh dengan aturan.
Apapun yang menggangu perasaan dan kenyamananku adalah hal toxic,
peduli amat benar atau salah. It is just about me and my feeling.
Dalam konteks beragama, Kita hanya mau mengikuti aturan agama hanya
ketika kita merasa happy dengannya. Atau kita hanya memilih aturan-aturan
agama yang cocok untuk kita, cuma memilih yang membuat kita merasa
senang dan nyaman.
Ketika ada aturan agama yang menurut perasaan kita tidak menyenangkan,
tidak masuk akal, tidak relevan dengan masa kini maka kita membuangnya.
Agama kita anggap layaknya warung prasmanan. Bebas pilih yang disuka,
lalu buang sisanya.
Padahal hubungan kita dengan Allah tidak didasarkan pada rasa senang dan
nyaman. Ada perjuangan, ketidaknyamanan dan kesusahan yang memang
harus kita alami. Dan justru di situlah esensi hidup di dunia. Semuanya ujian,
baik ketika senang maupun sedih, mudah maupun susah.
Dan di setiap kondisi itulah Allah melihat kita, menilai kita. Mana yang rendah
hati tetap tunduk beriman di setiap kondisi, mana yang kemudian lebih
menuhankan perasaan dan rasa nyamannya sendiri.
Hati-hati dengan berhala perasaan yang kita rawat diam-diam.
-----
Terimakasih sudah sampai di blog ini. Tulisan kak Aditya Priyahita ini saya share agar dapat diambil manfaatnya oleh student Qur'an yang mungkin belum bisa hadir saat Story Night di BSD tahun lalu, dan sudah mendapat izin dari pihak authornya untuk dibagikan ke kalian semua.
Jangan lupa baca juga hikmah pertama, kedua, juga yaa dari Story Night 2024. Selamat membaca..
No comments:
Post a Comment