Friday, June 20, 2025

Dakwah Perempuan, Cahaya Peradaban: Inspirasi Naskah Tabligh untuk Aisyiyah

Beberapa waktu lalu, saya ikut lomba membuat naskah tabligh untuk ibu-ibu Aisyiyah di tingkat ranting. Awalnya, saya hampir ragu untuk ikut karena merasa belum cukup mampu. Tapi ternyata, dari proses menulis itu saya justru semakin belajar banyak tentang betapa pentingnya peran perempuan dalam dakwah Islam. Alhamdulillah, naskah ini mendapat juara 2. Rasanya bukan soal juaranya, tapi lebih ke bagaimana pengalaman ini semakin menguatkan saya bahwa perempuan memang punya peran besar dalam membangun peradaban melalui dakwah.

Nah, di sini saya ingin berbagi naskah tersebut. Semoga bisa jadi inspirasi, referensi, atau bahkan semangat untuk siapa saja yang ingin terus belajar menyampaikan kebaikan. Selamat membaca, semoga bermanfaat.

------

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan islam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan pengikut beliau hingga akhir zaman.

Ibu-ibu yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan yang mulia ini, izinkan saya menyampaikan beberapa pesan tentang pentingnya dakwah perempuan dalam Islam. Dakwah adalah kewajiban setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Dakwah bukan hanya tugas para ulama, tetapi juga tugas kita semua untuk menyampaikan kebaikan dan kebenaran kepada sesama.

Peran perempuan dalam dakwah sangatlah penting. Di zaman Rasulullah SAW, para sahabiyah (sahabat perempuan) memiliki peran yang sangat besar dalam menyebarkan ajaran Islam. Contohnya adalah Khadijah Radhiyallahu Anha, istri pertama Rasulullah SAW, yang selalu mendukung dan membantu Rasulullah dalam menyebarkan Islam. Begitu pula dengan Aisyah Radhiyallahu Anha, istri Rasulullah yang banyak meriwayatkan hadits dan mengajar banyak sahabat tentang ilmu agama.

Ibu-ibu yang berbahagia,

Perempuan memiliki kemampuan dan keistimewaan yang bisa dimanfaatkan dalam dakwah. Salah satunya adalah kemampuan berbicara dan berinteraksi dengan orang lain. Perempuan bisa menggunakan kemampuan ini untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada keluarga, teman, dan masyarakat sekitar. Selain itu, perempuan juga memiliki kepekaan dan kelembutan hati yang bisa menarik orang lain untuk mendengarkan dan menerima dakwah dengan baik.

Namun, dalam menjalankan dakwah, perempuan harus tetap menjaga adab dan etika dalam Islam. Berpakaian sesuai dengan syariat, menjaga pergaulan, dan selalu menjaga niat lillahi ta'ala (karena Allah semata). Dakwah yang dilakukan dengan hati yang ikhlas dan cara yang baik insya Allah akan mendapatkan ridha Allah SWT.

Ibu-ibu yang dirahmati Allah,

Marilah kita semua, terus berusaha untuk menjalankan dakwah di mana pun kita berada. Sebelum saya akhiri, saya teringat sebuah kidung jawa saat saya masih remaja, judulnya Gusti Allah iku Siji. Mungkin diantara ibu-ibu, pernah mendengarnya.

Sholatullah salamullah, ‘ala thohaa rosulillaah

Sholatullah salamullaah, ‘ala yasiin habibillaah.

 

Gusti Allah iku siji, Pangeran kang disuwuni.

 Ora kakung ora putri, Ora ana sing madani.

 

Gusti Allah iku kuasa, Tanpa garwa tanpa putra.

Tanpa ibu tanpa rama, Gawe kewan lan manungsa.

 

Gusti Allah Maha Rahman, Gawe srengenge lan rembula.

Gawe Bumi lan wit-witan, Kanggo urip panguripan.

 

Gusti Allah Maha Kuat, kang nyiptakne Nur Muhammad.

Ayo pada maca shalawat, ben slamet dunya akherat.

Di dalam kidung ini tersirat makna ketauhidan. Dalilnya merujuk pada Al-Quran, atau dapat kita temukan ringkasnya dalam surat Al-Ikhlas. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan dan hidayah untuk terus berada di jalan-Nya. Terus berdakwah dengan apapun yang kita bisa dan jangan berhenti belajar. (Amin ya Rabbal ‘alamin) Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat, bila ada kekurangan mohon dimaafkan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.





No comments:

Post a Comment