Waktu masih kuliah, saya pernah duduk di satu kelas sambil mendengarkan dosen bercerita tentang "guru besar". Biasanya yang dimaksud adalah profesor, sosok cerdas yang jadi panutan dalam dunia keilmuan. Tapi ada satu “guru besar” lain yang jauh lebih berpengaruh, lebih digandrungi, bahkan lebih ditakuti dampaknya. Dan anehnya, kita semua muridnya — sejak bayi sampai orang tua, dari rakyat biasa sampai pejabat tinggi.
Siapa “guru besar” itu? Televisi.
Coba kita jujur sebentar. Berapa jam dalam sehari yang kita habiskan untuk duduk manis menatap layar TV atau scrolling video dengan suguhan yang wow? Kita dibesarkan oleh tayangan yang serba gemerlap, penuh warna, penuh drama. Rasanya hidup tanpa televisi kayak hidup tanpa hiburan. Tapi, apakah semua yang kita tonton itu baik?
Dibalik tayangan yang “menghibur”, ada racun yang pelan-pelan masuk tanpa kita sadari. Televisi bukan cuma menyajikan berita atau sinetron, tapi juga memperkenalkan budaya kekerasan. Kita nonton adegan berkelahi, balas dendam, penipuan, atau gaya hidup hedonis. Dan yang menonton? Anak-anak kecil, remaja, bahkan orang dewasa. Tidak heran kalau tawuran remaja, geng motor, dan kekerasan di jalanan seperti salju yang menggelinding — makin lama makin besar.
Sialnya lagi, pendidikan agama di sekolah pun seringkali kurang kuat membekali anak-anak kita. Satu jam pelajaran agama kalah telak dengan lima jam nonton TV di rumah. Bahkan, di rumah pun suasana sering sepi dari bimbingan rohani. Banyak orang tua sibuk bekerja, dan anak-anak “dititipkan” pada benda kotak bernama televisi. Kalau bukan TV, ya gadget. Lebih canggih, lebih dekat, lebih personal. Dan isinya? Tidak semuanya baik.
Masalahnya bukan hanya tentang kekerasan. Kita mulai menginginkan hal-hal yang ada di layar. Perempuan mulai membandingkan suaminya dengan tokoh-tokoh drama yang kaya, romantis, ganteng, pokoknya sempurna. Laki-laki pun seringkali termakan gaya hidup mewah yang serba mengkilap, padahal kehidupan nyata seringkali penuh perjuangan. Dari sini, pertengkaran rumah tangga pelan-pelan menyusup. Banyak perceraian bukan karena tidak cinta, tapi karena ilusi yang dibentuk oleh layar kaca.
Belum cukup sampai di situ. Tayangan-tayangan mistis, horor, bahkan acara yang penuh unsur syirik begitu mudahnya masuk ke ruang tamu kita. Kita menonton orang minta rezeki di kuburan, minta keselamatan ke pohon besar, atau minta jodoh ke dukun berkedok ustadz. Semua ini perlahan menghancurkan akidah kita. Yang lebih menakutkan, semua itu dibalut dengan kata “hiburan”.
Di tengah zaman yang katanya modern, justru kepercayaan terhadap hal mistis semakin menjadi-jadi. Aneh, kan? Teknologi maju, tapi cara berpikir mundur. Dan sadarnya, setelah kehidupan kita terasa makin kosong.
Lalu, apa solusinya?
Bukan berarti kita harus membenci teknologi atau hidup di gua. Tapi kita harus pintar-pintar memilih mana tontonan yang layak, mana yang harus di-skip. Sebab, apa yang kita tonton hari ini, akan membentuk siapa diri kita besok. Jangan sampai, tanpa sadar, kita membesarkan generasi yang gagap akhlak, minim iman, dan rapuh akidahnya — semua karena kita abai terhadap racun yang kita konsumsi setiap hari.
Bimbingan agama, kebersamaan keluarga, dan kontrol diri jadi kunci penting. Jangan sampai TV lebih sering bicara kepada anak kita dibanding kita sendiri. Kalau mau generasi yang kuat, akidahnya kokoh, pikirannya cerdas, langkahnya lurus, ya mulai dari rumah. Mulai dari sekarang.
Karena “guru besar” bernama televisi ini tidak pernah libur mendidik — baik mendidik ke jalan kebaikan, atau justru menuntun perlahan ke jalan keburukan.
Pilihan ada di tangan kita.
No comments:
Post a Comment