Tuesday, July 29, 2025

Tumbuh di Luar Tembok Keraton


 "Wong sing kalingan suka, ilang prayitane."

Orang yang larut dalam kenikmatan, akan kehilangan kewaspadaannya.
Sebuah prinsip tajam yang diwariskan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII—bukan sekadar pepatah, tapi cermin dari sebuah pandangan hidup yang mendalam.

Di balik megahnya tembok Keraton Yogyakarta dan segala kebesaran simbol kebudayaan Jawa, tersimpan satu kisah menarik tentang bagaimana seorang raja justru tidak membesarkan anaknya dalam kemewahan dan kenyamanan yang berlebihan. Sri Sultan HB VIII, atau yang dikenal sebelum naik takhta sebagai GPH Puruboyo, memilih jalan berbeda.

Anaknya, GRM Darojatun—yang kelak dikenal sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono IX—tidak dibesarkan dalam pelukan abdi dalem atau hangatnya lingkungan keraton. Justru sejak usia empat tahun, beliau ‘dititipkan’ kepada seorang kepala sekolah Belanda bernama Mulder di daerah Gondomanan. Tidak ada inang, tidak ada kemanjaan, dan tidak ada protokol keraton. Hanya seorang anak yang belajar hidup seperti rakyat kebanyakan—bahkan mungkin lebih keras.

Dalam benak sang ayah, keputusan ini bukan karena kurang cinta, tapi justru karena cinta yang sangat besar. Cinta yang tidak ingin melumpuhkan. Ia ingin anak-anaknya tumbuh sebagai manusia utuh, bukan sekadar pewaris tahta yang nyaman duduk di singgasana tanpa tahu pahit getirnya dunia luar.

Prinsip "jangan terbuai nikmat" inilah yang jadi dasar dari segala keputusannya. Sultan HB VIII tahu, terlalu lama berada dalam zona nyaman hanya akan menggerogoti kewaspadaan dan ketangguhan. Maka, jalan hidup GRM Darojatun ditempa oleh kemandirian sejak dini. Mulai dari TK di bawah asuhan orang Belanda, hingga pendidikan dasar di Jalan Pakem, menengah di Semarang dan Bandung, dan akhirnya ke bangku kuliah di Negeri Belanda.

Selama hampir dua dekade masa tumbuh-kembangnya, GRM Darojatun tidak tinggal dalam bayang-bayang kemewahan keraton. Ia hidup di tengah masyarakat biasa, makan seperti mereka, belajar seperti mereka, dan merasakan hidup tanpa segala keistimewaan yang mestinya bisa ia nikmati.

Namun, cerita ini tidak berhenti di soal pola asuh.

Di masa kepemimpinannya, Sri Sultan HB VIII juga mencatatkan berbagai jejak kemajuan. Ia bukan hanya pemimpin istana, tapi juga penggerak kemajuan rakyat. Di bawah kepemimpinannya, lahirlah banyak inisiatif pendidikan dan budaya. Sekolah Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara mulai berkembang (1922), Organisasi Politik Katolik Jawi muncul (1923), dan Kongres Perempuan Indonesia pertama pun digelar (1929).

Keraton bukan hanya menjadi pusat kekuasaan, tapi juga pusat penggerak budaya dan pembangunan. Masjid Gede direnovasi, Bangsal Pagelaran dan Tratag Siti Hinggil diperbarui, pakem tari klasik Yogyakarta ditetapkan, dan pertunjukan wayang wong besar-besaran digelar hingga 20 lakon.

Bahkan Sultan memberikan keleluasaan bagi para abdi dalem untuk mengenyam pendidikan formal—sebuah langkah yang revolusioner pada zamannya. Ia juga mendukung pengadaan ambulan untuk rumah sakit, sesuatu yang memperlihatkan kepeduliannya terhadap kesehatan rakyat.

Membaca kisah ini, saya terdiam cukup lama. Dalam dunia yang hari ini semakin gemar mengejar kenyamanan dan kemudahan, ada satu pelajaran berharga yang dititipkan oleh Sultan HB VIII:

Jangan terlalu lama berada di zona nyaman.
Karena kenyamanan yang tak terkendali, bisa jadi candu yang melumpuhkan kewaspadaan.

Pendidikan karakter sejati bukan soal kata-kata bijak, tapi keputusan-keputusan sulit dalam membentuk watak manusia. Sultan HB VIII tidak hanya membesarkan pemimpin masa depan, tetapi juga menanamkan nilai ketangguhan, kewaspadaan, dan semangat melayani rakyat.

Saya pun bertanya pada diri sendiri:
Apakah saya sudah cukup keluar dari zona nyaman saya?
Ataukah saya mulai kehilangan prayita, kehilangan kewaspadaan karena terlalu larut dalam kenyamanan?

Kisah Sri Sultan HB VIII ini bukan sekadar cerita tentang seorang raja. Ini adalah pelajaran bagi setiap orang tua, pendidik, pemimpin, bahkan untuk kita—yang sedang belajar jadi manusia yang utuh.

Karena pada akhirnya, takhta sejati bukan yang diwariskan dari darah biru, tetapi yang tumbuh dari keberanian melawan kenyamanan.


📍Catatan dari sudut kecil hati seorang pembelajar,
yang sedang berusaha tidak kalingan suka,
dan tetap eling lan waspada.

Friday, June 20, 2025

Perempuan dan Kedudukannya: Dari Warisan Tradisi Menuju Rekonstruksi Peran

      Suatu sore, dalam perjalanan pulang dari kampus, saya berbincang dengan seorang teman perempuan tentang mimpinya. Ia ingin menjadi dosen, punya karier cemerlang, namun juga ingin membesarkan anak-anaknya sendiri kelak. Di tengah obrolan hangat itu, ia bertanya, “Bisa nggak ya, perempuan itu berdiri di dua dunia sekaligus—domestik dan publik—tanpa harus merasa gagal di salah satunya?”

           Pertanyaan itu seperti membuka pintu lama dalam diskusi panjang soal kedudukan perempuan. Sebuah topik klasik, tapi tak pernah kehilangan relevansinya. Karena sampai hari ini, posisi perempuan dalam struktur sosial masih jadi isu yang kompleks—dipenuhi dikotomi, stereotip, dan konstruksi sosial yang panjang usianya.

Kedudukan dan Peran: Dua Hal yang Tak Terpisahkan

Dalam sosiologi, kedudukan dimaknai sebagai posisi atau tempat seseorang dalam tatanan sosial. Ia tidak berdiri sendiri, karena selalu berdampingan dengan peran, yakni ekspektasi sosial terhadap tindakan yang dilakukan berdasarkan kedudukan itu. Dan dalam praktiknya, perempuan sering kali ditempatkan dalam posisi yang “tersudut” dalam struktur peran yang sudah dikonstruksi sejak lama.

Teori-teori klasik bahkan terbagi dua: kelompok fungsionalis melihat dominasi laki-laki sebagai sesuatu yang alami dan tak bisa ditawar, sedangkan kelompok konflik menilai dominasi itu sebagai bentuk penindasan sistemik yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat.

Tapi, apakah semua itu benar-benar kodrati? Atau sebenarnya hasil dari konstruksi budaya yang telah berlangsung lama?

Biologi Bukan Justifikasi Diskriminasi

Memang benar, secara biologis, perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan yang jelas. Seperti yang dijelaskan Mansyur Faqih, perempuan memiliki rahim, memproduksi ovum, bisa menyusui, dan melahirkan. Sedangkan laki-laki memproduksi sperma dan memiliki karakteristik biologis lain. Tapi apakah perbedaan ini secara otomatis membatasi ruang gerak perempuan hanya di dapur, sumur, dan kasur?

Di sinilah jebakan konstruksi sosial bekerja. Masyarakat menciptakan “realitas objektif” tentang peran perempuan berdasarkan perbedaan biologis, lalu menjadikannya standar yang mutlak. Inilah yang disebut sebagai proses konstruksi, sebuah bangunan persepsi yang lama-lama dianggap sebagai kebenaran yang tak bisa diubah.

Namun dalam perkembangan zaman, proses ini mulai digugat. Melalui dekonstruksi, perempuan mulai mempertanyakan: mengapa ruang publik hanya milik laki-laki? Mengapa keberadaan perempuan di panggung politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan dianggap sebagai “partisipasi tambahan”, bukan hak yang inheren?

Dari dekonstruksi ini, lahirlah rekonstruksi—sebuah proses pembentukan ulang makna peran dan kedudukan perempuan dalam masyarakat.

Publik vs Domestik: Siapa yang Menentukan Batasnya?

Perempuan selama ini lebih banyak diidentikkan dengan wilayah domestik, sementara laki-laki dengan publik. Dalam masyarakat patriarkal, wilayah publik dianggap lebih prestisius, penuh peluang, dan dihormati. Sebaliknya, pekerjaan domestik dianggap “biasa saja” atau bahkan invisible.

Padahal, realitas kini tidak lagi seperti itu. Seorang perempuan bisa menjadi ibu rumah tangga yang hangat, sekaligus CEO sebuah perusahaan. Seperti kata Herbert Spencer, perempuan punya hak yang sama untuk bersaing di ruang publik, bukan karena mereka meniru laki-laki, tapi karena mereka juga manusia yang merdeka dan berdaya.

Namun, pertanyaannya kembali pada struktur sosial. Apakah lingkungan mendukung mereka untuk itu? Atau justru memenjarakan mereka dalam persepsi dan ekspektasi yang menekan?

Budaya, Agama, dan Ekonomi: Penentu Ruang Gerak

Ada tiga aktor besar yang ikut menentukan bagaimana perempuan diposisikan dalam masyarakat: agama, budaya, dan ekonomi.

Dalam masyarakat seperti Jawa, misalnya, Clifford Geertz menyebut bahwa agama berperan sebagai sistem kebudayaan. Simbol, nilai, dan ritual keagamaan mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap posisi perempuan. Jika agama dipahami secara sempit, ia bisa menjadi alat pembenaran diskriminasi. Namun jika agama dimaknai secara utuh, ia bisa menjadi kekuatan emansipatoris.

Begitu juga dalam bidang ekonomi, stratifikasi kelas berpengaruh besar terhadap peran perempuan. Max Weber menyebut dua jenis kelas: satu yang bekerja sama, dan satu lagi yang berkonflik memperebutkan sumber daya. Dalam masyarakat ekonomi modern, perempuan seringkali harus bekerja dua kali lipat: bekerja di kantor dan juga tetap bertanggung jawab atas rumah tangga.

Akhir Kata: Perempuan Tak Perlu Memilih Satu Dunia

Dalam dunia hari ini, perempuan tidak harus memilih antara menjadi ibu yang baik atau profesional yang sukses. Mereka bisa menjadi keduanya—asal mendapat dukungan, pengakuan, dan ruang yang setara dari masyarakat. Kedudukan perempuan bukan ditentukan oleh biologi semata, tetapi oleh sejauh mana kita sebagai masyarakat mau membuka ruang untuk rekonstruksi peran sosial yang lebih adil dan manusiawi.

Seperti kata teman saya sore itu, “Aku cuma pengen jadi perempuan yang bisa berkembang, tanpa harus merasa bersalah.” Dan saya pikir, kita semua—perempuan maupun laki-laki—punya tanggung jawab untuk membuat dunia ini memungkinkan bagi mimpi sederhana semacam itu.

#PerempuanBerdaya #RekonstruksiPeran #SetaraDalamRuangPublik #CeritaSosialKita #SosiologiPerempuan #KritikBudaya

Dakwah Perempuan, Cahaya Peradaban: Inspirasi Naskah Tabligh untuk Aisyiyah

Beberapa waktu lalu, saya ikut lomba membuat naskah tabligh untuk ibu-ibu Aisyiyah di tingkat ranting. Awalnya, saya hampir ragu untuk ikut karena merasa belum cukup mampu. Tapi ternyata, dari proses menulis itu saya justru semakin belajar banyak tentang betapa pentingnya peran perempuan dalam dakwah Islam. Alhamdulillah, naskah ini mendapat juara 2. Rasanya bukan soal juaranya, tapi lebih ke bagaimana pengalaman ini semakin menguatkan saya bahwa perempuan memang punya peran besar dalam membangun peradaban melalui dakwah.

Nah, di sini saya ingin berbagi naskah tersebut. Semoga bisa jadi inspirasi, referensi, atau bahkan semangat untuk siapa saja yang ingin terus belajar menyampaikan kebaikan. Selamat membaca, semoga bermanfaat.

------

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan islam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan pengikut beliau hingga akhir zaman.

Ibu-ibu yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan yang mulia ini, izinkan saya menyampaikan beberapa pesan tentang pentingnya dakwah perempuan dalam Islam. Dakwah adalah kewajiban setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Dakwah bukan hanya tugas para ulama, tetapi juga tugas kita semua untuk menyampaikan kebaikan dan kebenaran kepada sesama.

Peran perempuan dalam dakwah sangatlah penting. Di zaman Rasulullah SAW, para sahabiyah (sahabat perempuan) memiliki peran yang sangat besar dalam menyebarkan ajaran Islam. Contohnya adalah Khadijah Radhiyallahu Anha, istri pertama Rasulullah SAW, yang selalu mendukung dan membantu Rasulullah dalam menyebarkan Islam. Begitu pula dengan Aisyah Radhiyallahu Anha, istri Rasulullah yang banyak meriwayatkan hadits dan mengajar banyak sahabat tentang ilmu agama.

Ibu-ibu yang berbahagia,

Perempuan memiliki kemampuan dan keistimewaan yang bisa dimanfaatkan dalam dakwah. Salah satunya adalah kemampuan berbicara dan berinteraksi dengan orang lain. Perempuan bisa menggunakan kemampuan ini untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan kepada keluarga, teman, dan masyarakat sekitar. Selain itu, perempuan juga memiliki kepekaan dan kelembutan hati yang bisa menarik orang lain untuk mendengarkan dan menerima dakwah dengan baik.

Namun, dalam menjalankan dakwah, perempuan harus tetap menjaga adab dan etika dalam Islam. Berpakaian sesuai dengan syariat, menjaga pergaulan, dan selalu menjaga niat lillahi ta'ala (karena Allah semata). Dakwah yang dilakukan dengan hati yang ikhlas dan cara yang baik insya Allah akan mendapatkan ridha Allah SWT.

Ibu-ibu yang dirahmati Allah,

Marilah kita semua, terus berusaha untuk menjalankan dakwah di mana pun kita berada. Sebelum saya akhiri, saya teringat sebuah kidung jawa saat saya masih remaja, judulnya Gusti Allah iku Siji. Mungkin diantara ibu-ibu, pernah mendengarnya.

Sholatullah salamullah, ‘ala thohaa rosulillaah

Sholatullah salamullaah, ‘ala yasiin habibillaah.

 

Gusti Allah iku siji, Pangeran kang disuwuni.

 Ora kakung ora putri, Ora ana sing madani.

 

Gusti Allah iku kuasa, Tanpa garwa tanpa putra.

Tanpa ibu tanpa rama, Gawe kewan lan manungsa.

 

Gusti Allah Maha Rahman, Gawe srengenge lan rembula.

Gawe Bumi lan wit-witan, Kanggo urip panguripan.

 

Gusti Allah Maha Kuat, kang nyiptakne Nur Muhammad.

Ayo pada maca shalawat, ben slamet dunya akherat.

Di dalam kidung ini tersirat makna ketauhidan. Dalilnya merujuk pada Al-Quran, atau dapat kita temukan ringkasnya dalam surat Al-Ikhlas. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan dan hidayah untuk terus berada di jalan-Nya. Terus berdakwah dengan apapun yang kita bisa dan jangan berhenti belajar. (Amin ya Rabbal ‘alamin) Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat, bila ada kekurangan mohon dimaafkan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.





Wednesday, June 18, 2025

Live with Wisdom: Hidup Gak Cuma Butuh Pintar, Tapi Juga Bijak

Kata “wisdom” atau kebijaksanaan sering kita dengar dalam banyak konteks. Namun, apa sebenarnya makna kebijaksanaan itu dalam kehidupan sehari-hari?

Dalam sebuah kajian, Ustadz Nouman Ali Khan menyampaikan bahwa:

"Wisdom is keeping something from falling apart."
Kebijaksanaan adalah kemampuan menjaga sesuatu agar tetap utuh, tidak hancur.

Ilustrasi sederhana yang beliau berikan adalah tentang dagu. Dagu menjaga bentuk wajah agar tetap proporsional. Bayangkan jika wajah manusia tidak memiliki dagu—tentu akan tampak aneh dan tidak seimbang. Begitu pula dalam hidup, kebijaksanaan menjaga kita agar tidak kehilangan arah, tetap utuh secara mental, emosional, dan sosial.

Apa Saja Ciri-Ciri Kebijaksanaan?

Dari berbagai literatur, wisdom memiliki beberapa unsur penting, antara lain:

  1. Nasihat yang baik (Good advice)

  2. Bersikap adil (Justice)

  3. Keputusan yang tepat dan tegas (Decisive judgment)

  4. Dapat dipercaya dan komunikatif (Trustworthy & Clarity)

  5. Mengetahui sesuatu dan mampu mengamalkannya (Knowledge & Action)

Kebijaksanaan bukan hanya tentang mengetahui hal yang benar, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi yang tepat.

Teladan Wisdom dalam Al-Qur’an

1. Nabi Sulaiman a.s. – Bijak dalam Mengambil Keputusan

Dalam satu kisah, Nabi Sulaiman menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menyelesaikan sengketa antara dua orang wanita yang memperebutkan seorang bayi. Beliau tidak hanya adil, tetapi juga berpikir strategis dan penuh pertimbangan. Ini adalah contoh nyata dari keputusan bijak yang menyelamatkan keadaan.

2. Luqman al-Hakim – Bijak dalam Mendidik Anak

Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan dalam Al-Qur’an karena nasihat-nasihatnya yang sangat dalam kepada anaknya. Hal ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan adalah karunia yang bisa diberikan kepada siapa saja, selama ia mau belajar dan memahami kehidupan.

3. Ashabul Kahfi – Bijak dalam Menjaga Iman

Kelompok pemuda ini memilih meninggalkan keramaian kota demi menjaga keyakinan mereka. Mereka tidak mengikuti arus masyarakat yang penuh penyimpangan. Sikap mereka mencerminkan keteguhan hati dan kemampuan melihat jauh ke depan, meskipun harus berkorban kenyamanan.

4. Hasan dan Husain – Bijak dalam Menyampaikan Kritik

Ketika melihat seseorang yang keliru dalam berwudhu, mereka tidak langsung menyalahkan. Sebaliknya, mereka menyampaikan koreksi dengan cara halus dan penuh adab. Ini contoh bahwa kebijaksanaan juga berkaitan erat dengan cara kita memperlakukan orang lain dengan baik dan hormat.

Bagaimana Kita Bisa Belajar Menjadi Bijak?

Kebijaksanaan bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia perlu dilatih dan dipraktikkan. Berikut beberapa cara sederhana:
  • Belajar untuk tidak tergesa-gesa dalam merespons sesuatu
  • Biasakan berpikir sebelum berbicara
  • Latih diri memahami sudut pandang orang lain
  • Perbanyak membaca dan berdiskusi hal-hal yang bernilai
  • Amalkan ilmu yang sudah dipahami, meski sedikit

Di era penuh informasi dan perubahan yang cepat ini, kebijaksanaan adalah bekal penting untuk menjaga diri dan memberikan manfaat bagi sekitar. Kita tidak hanya dituntut untuk cerdas, tetapi juga bijak dalam bersikap dan mengambil keputusan.

Kebijaksanaan bukan milik segelintir orang. Seperti kisah Luqman, Ashabul Kahfi, dan cucu Rasulullah, siapa pun yang mau belajar dan membuka hati, bisa menjadi pribadi yang bijak.

"Mari belajar untuk hidup dengan kebijaksanaan.
Bukan hanya hidup yang lebih stabil, tapi juga lebih bermakna."

Belajar Bersama dalam Tadabbur, Menemukan Kebijaksanaan

Pengalaman saya belajar tentang wisdom ini berawal dari salah satu kegiatan tadabbur Al-Qur’an yang diinisiasi oleh Ustadz Nouman Ali Khan, melalui komunitas kontributor Bayyinah Indonesia. Kami rutin mengadakan sesi tadabbur setiap Ahad pagi, pukul 05.30–07.30 WIB, secara daring melalui Zoom.

Agenda yang diberi nama Story Morning ini menjadi ruang belajar yang sangat berkesan. Kami tidak hanya mendalami makna bahasa Arab dan tafsir ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan penjelasan Ustadz Nouman, tapi juga berdiskusi dan merefleksikan nilai-nilai tersebut sesuai sudut pandang dan pengalaman masing-masing.

Di sinilah kebijaksanaan terasa sangat hidup. Hikmah ayat-ayat Allah dikaitkan dengan realitas yang kita alami, baik dalam kehidupan pribadi maupun fenomena sosial kekinian. Gaya penyampaiannya juga santai, ramah, dan dekat dengan dunia anak muda—membuat sesi ini terasa akrab namun tetap mendalam.

Saya merasa sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari proses belajar ini. Meski masih dalam tahap memahami, saya berharap catatan sederhana ini bisa membawa manfaat bagi sahabat yang membacanya. Dan tentu, jika ada kekeliruan dalam penyampaian, mohon dengan rendah hati untuk dikoreksi.

Jazakumullahu khayran atas sudah berkenan membaca.
Semoga kita semua terus diberi taufik untuk hidup dengan kebijaksanaan yang dituntun oleh cahaya Al-Qur’an.

Monday, June 16, 2025

Hikmah ketiga Story Night Nouman Ali Khan 2024

 Berhala Perasaan

Ust. Nouman berkata: fenomena sekarang ini, yang jadi berhala baru dalam hidup adalah perasaan kita. Kita menempatkan perasaan setinggi langit. Self centered: Yang paling penting dalam hidupku adalah perasaanku, apa yang aku rasakan. Masa bodoh dengan kondisi dan perasaan orang lain, masa bodoh dengan norma dan nilai kehidupan, masa bodoh dengan aturan. Apapun yang menggangu perasaan dan kenyamananku adalah hal toxic, peduli amat benar atau salah. It is just about me and my feeling

Dalam konteks beragama, Kita hanya mau mengikuti aturan agama hanya ketika kita merasa happy dengannya. Atau kita hanya memilih aturan-aturan agama yang cocok untuk kita, cuma memilih yang membuat kita merasa senang dan nyaman. 

Ketika ada aturan agama yang menurut perasaan kita tidak menyenangkan, tidak masuk akal, tidak relevan dengan masa kini maka kita membuangnya.

Agama kita anggap layaknya warung prasmanan. Bebas pilih yang disuka, lalu buang sisanya.

Padahal hubungan kita dengan Allah tidak didasarkan pada rasa senang dan nyaman. Ada perjuangan, ketidaknyamanan dan kesusahan yang memang harus kita alami. Dan justru di situlah esensi hidup di dunia. Semuanya ujian, baik ketika senang maupun sedih, mudah maupun susah. 

Dan di setiap kondisi itulah Allah melihat kita, menilai kita. Mana yang rendah hati tetap tunduk beriman di setiap kondisi, mana yang kemudian lebih menuhankan perasaan dan rasa nyamannya sendiri. 

Hati-hati dengan berhala perasaan yang kita rawat diam-diam.
-----
Terimakasih sudah sampai di blog ini. Tulisan kak Aditya Priyahita ini saya share agar dapat diambil manfaatnya oleh student Qur'an yang mungkin belum bisa hadir saat Story Night di BSD tahun lalu, dan sudah mendapat izin dari pihak authornya untuk dibagikan ke kalian semua. 

Jangan lupa baca juga hikmah pertama, kedua, juga yaa dari Story Night 2024. Selamat membaca..

Hikmah Kedua Story Night Nouman Ali Khan 2024

Every story in the Qur'an is alive

Every story in the Qur'an is our story

It is not story about Fir'aun, Musa, Yusuf, Ibrahim, or Bani Israil, it is the story of us

Ya, kisah-kisah dalam Al Quran tidak pernah mati. Ia tak hanya menjadi artefak sejarah yang diletakkan di etalase museum. Ia tetap hidup, ia terjadi kembali, berulang-ulang. Bisa jadi pelaku dan waktunya berbeda, tapi prinsipnya sama, kaidahnya serupa. 

Saat acara story night kemarin saya benar-benar terpukau dan merinding. Sudah sejak SD saya hafal cerita bani israil dan Nabi Musa, tentang mengorbankan sapi betina, tentang Samiri dan patung sapi, tentang Nabi Musa berbicara dengan Allah, dan tentang tenggelamnya Fir'aun. 

Tapi saya tidak pernah tahu cerita tersebut sampai ke pemahaman yang seindah dan semendalam apa yang disampaikan Ust. Nouman Ali Khan. Tidak pernah paham sampai titik seaplikatif itu, dan serelevan itu dengan kehidupan kita sekarang.

Apa yang disampaikan Ust Nouman itu kayak Connecting the dots. Beberapa ayat dalam satu tema besar, yang tersebar di berbagai surat Al Qur'an, bisa dirangkai dalam satu alur cerita dan pemahaman yang indah banget. Dengerinnya kayak nonton film, part by part dijelaskan lalu di akhir ditaruhlah satu puzzle terakhir yang membuat cerita jadi utuh dan mempesona. Bikin mau nangis. 

Hal itu yang kemudian seharusnya membawa kita kepada kesadaran bahwa ketika kita mengkaji kisah-kisah dalam Al Qur'an jangan sampai cuma berhenti di tahap tahu kronologi peristiwa yang berakhir hanya sebagai pengetahuan semata. Harusnya kita mendalaminya, memikirkannya, merenungkannya. Baca tafsirnya, baca penjelasan dan hikmah yang disampaikan banyak ulama. 

Karena kisah-kisah dari Al Quran yang selama ini hanya kita anggap sebagai cerita masa lalu, hanya menjadi pelengkap pengetahuan agama, ternyata jika ditadabburi secara mendalam menyimpan hikmah istimewa yang bisa jadi merupakan jawaban atas pertanyaan hidup kita selama ini, bisa menjadi cahaya petunjuk bagi kita yang sekarang hilang arah pulang, atau menjadi oase luas yang menyejukkan kita yang lama dirundung dahaga.

----

Terimakasih sudah sampai di blog ini. Tulisan kak Aditya Priyahita ini saya share agar dapat diambil manfaatnya oleh student Qur'an yang mungkin belum bisa hadir saat Story Night di BSD tahun lalu, dan sudah mendapat izin dari pihak authornya untuk dibagikan ke kalian semua. 

Jangan lupa baca juga hikmah pertama di Resume Story Night part 1 juga ketiga dari Story Night 2024. Selamat membaca..

Belajar dari Student Qur'an Nouman Ali Khan (Story Night 2024)

Bani Israil dan Umat  Islam Hari Ini

Bagian Pertama

Dalam acara STORY NIGHT kemarin di BSD ust. Nouman Ali Khan menceritakan berbagai macam episode antara Nabi Musa dan Bani Israil. Banyak sekali hikmah, perenungan, dan pemahaman baru yang didapat dari runtutan kisah itu.  

Poin pertama yang saya dapat adalah tentang penyakit INFERIORITY COMPLEX. Bani Israil mengalami penindasan dan perbudakan yang lama oleh bangsa Mesir. Saking lamanya, mentalitas Bani Israil jadi jatuh ke titik terendah. Mereka merasa sangat inferior, tak berdaya dan rendah diri, padahal sejatinya Allah memberi kedudukan yang istimewa kepada Bani Israil.

Mereka adalah generasi yang lahir dan besar dalam perbudakan Mesir, di mana Firaun dan simbol-simbolnya menjadi pusat kehidupan. Mereka tidak memiliki referensi lain selain apa yang mereka lihat dan alami saat itu. 

Bani Israil dengan inferioritasnya terpukau melihat orang-orang Mesir yang kaya, maju, berpendidikan, berpakaian bagus, memiliki jabatan dan berkuasa. Mereka ingin menjadi seperti orang Mesir, dan mulai menirunya. Mereka mulai meniru cara berpakaian, cara berjalan, cara bicara, cara berpikir, bahkan cara beragama orang Mesir yang membuat mereka secara psikologis merasa memiliki strata yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Hilang jati diri mereka. 

Itulah ciri khas mentalitas bangsa terjajah terhadap penjajahnya. Hal yang sama bisa kita temukan dalam sejarah Indonesia. Banyak pribumi yang berpakaian, berbicara, bertingkah laku layaknya penjajah Belanda, semata mata agar merasa memiliki level lebih tinggi dari kebanyakan Inlander, dan bisa fit in, ikut bergaul di lingkungan bergengsi para kompeni, walaupun akhirnya mereka harus mengorbankan identitas asli mereka, nilai-nilai luhur otentik mereka, bahkan agama mereka. 

Dalam konteks bani Israil, perasaan inferioritas ini juga menyebabkan mereka tidak memiliki semangat untuk merdeka dan membebaskan diri dari penjajahan Mesir. Mereka tidak mampu melihat potensi diri dan kaumnya sehingga merasa lebih nyaman dalam penindasan daripada mengambil resiko untuk berusaha meraih kebebasan. Itulah sebabnya ketika Nabi Musa mengajak dan menuntun mereka untuk merdeka, mereka ogah-ogahan, mereka enggan. 

Dalam sejarah Indonesia pun serupa. Kita kenal dengan istilah londo ireng. Pribumi yang menggadaikan dirinya pada penjajah dan menjadi duri dalam daging perjuangan, alih-alih ikut berusaha membantu meraih kemerdekan. Dalam konteks saat ini, inferiority complex sekarang juga tengah menjangkiti sebagian umat Islam. Banyak individu atau kelompok Muslim yang karena merasa rendah atau tertinggal, mulai meniru nilai-nilai Barat dalam kehidupannya.

Mereka lebih mengejar dan mengutamakan kemajuan materialistik ala barat, serta banyak mengadopsi pemikiran barat seperti individualisme, hedonisme, sekulerisme dan konsumerisme, dan mengorbankan prinsip-prinsip dasar dalam Islam.

Mereka meninggalkan nilai agamanya sendiri dan lebih memilih membebek pada barat karena tidak memahami Islam dengan benar. Terdistorsi oleh pengaruh media dan arus informasi yang sangat masif menyudutkan dan memfitnah Islam dengan gincu retorikanya. Hal ini membuat banyak orang Islam merasa bahwa nilai dan sistem hidup mereka yang Islami tidak lagi relevan atau tidak cukup baik. Kalah jauh dibandingkan barat. 

Kondisi demikian menjadikan penting bagi umat Islam untuk belajar lagi dengan sungguh-sungguh, memahami Islam secara utuh menyeluruh dari sumber yang terpercaya, bukan malah terbawa narasi-narasi menyesatkan dari media dan pemikiran di luar Islam. 

Pelajari sejarah kejayaan dan keindahan Islam agar kita tidak tercerabut dan terasing dari identitas asli kita. Terapkan kaidah-kaidah yang menyebabkan umat Islam unggul di atas kaum lainnya sehingga bisa mengulang lagi kejayaan Islam. Pahami prinsip-prinsip dasar Islam serta akrabilah Al Quran. Perluas wawasan keislaman, mangambil ilmu dari banyak guru dan sumber bacaan terpercaya. 

Karena jika kita memahami Islam dengan benar, mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, kita akan terjauhkan dari penyakit inferiority complex tersebut. Kita tidak akan tertarik dan terpukau dengan konsep hidup di luar Islam, karena kita tahu betapa berharga dan luar biasa Islam itu. Betapa kita sudah sangat terpuaskan dengan Islam. Tanpa cela, tanpa cacat. Sempurna. 

Adalah konyol dan bodoh ketika kita memiliki bongkahan emas dan berlian, tapi malah membuangnya dan justru terpukau dengan kerikil yang berserak di pinggir jalan.

Tulisan : Aditya Priyahita (Student Qur'an Ustadz Nouman Ali Khan Indonesia)

---- 

baca juga kelanjutan poin kedua dari insight Kak Aditya di postingan berikutnya yaa..