"Wong sing kalingan suka, ilang prayitane."
Orang yang larut dalam kenikmatan, akan kehilangan kewaspadaannya.
Sebuah prinsip tajam yang diwariskan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII—bukan sekadar pepatah, tapi cermin dari sebuah pandangan hidup yang mendalam.
Di balik megahnya tembok Keraton Yogyakarta dan segala kebesaran simbol kebudayaan Jawa, tersimpan satu kisah menarik tentang bagaimana seorang raja justru tidak membesarkan anaknya dalam kemewahan dan kenyamanan yang berlebihan. Sri Sultan HB VIII, atau yang dikenal sebelum naik takhta sebagai GPH Puruboyo, memilih jalan berbeda.
Anaknya, GRM Darojatun—yang kelak dikenal sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono IX—tidak dibesarkan dalam pelukan abdi dalem atau hangatnya lingkungan keraton. Justru sejak usia empat tahun, beliau ‘dititipkan’ kepada seorang kepala sekolah Belanda bernama Mulder di daerah Gondomanan. Tidak ada inang, tidak ada kemanjaan, dan tidak ada protokol keraton. Hanya seorang anak yang belajar hidup seperti rakyat kebanyakan—bahkan mungkin lebih keras.
Dalam benak sang ayah, keputusan ini bukan karena kurang cinta, tapi justru karena cinta yang sangat besar. Cinta yang tidak ingin melumpuhkan. Ia ingin anak-anaknya tumbuh sebagai manusia utuh, bukan sekadar pewaris tahta yang nyaman duduk di singgasana tanpa tahu pahit getirnya dunia luar.
Prinsip "jangan terbuai nikmat" inilah yang jadi dasar dari segala keputusannya. Sultan HB VIII tahu, terlalu lama berada dalam zona nyaman hanya akan menggerogoti kewaspadaan dan ketangguhan. Maka, jalan hidup GRM Darojatun ditempa oleh kemandirian sejak dini. Mulai dari TK di bawah asuhan orang Belanda, hingga pendidikan dasar di Jalan Pakem, menengah di Semarang dan Bandung, dan akhirnya ke bangku kuliah di Negeri Belanda.
Selama hampir dua dekade masa tumbuh-kembangnya, GRM Darojatun tidak tinggal dalam bayang-bayang kemewahan keraton. Ia hidup di tengah masyarakat biasa, makan seperti mereka, belajar seperti mereka, dan merasakan hidup tanpa segala keistimewaan yang mestinya bisa ia nikmati.
Namun, cerita ini tidak berhenti di soal pola asuh.
Di masa kepemimpinannya, Sri Sultan HB VIII juga mencatatkan berbagai jejak kemajuan. Ia bukan hanya pemimpin istana, tapi juga penggerak kemajuan rakyat. Di bawah kepemimpinannya, lahirlah banyak inisiatif pendidikan dan budaya. Sekolah Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara mulai berkembang (1922), Organisasi Politik Katolik Jawi muncul (1923), dan Kongres Perempuan Indonesia pertama pun digelar (1929).
Keraton bukan hanya menjadi pusat kekuasaan, tapi juga pusat penggerak budaya dan pembangunan. Masjid Gede direnovasi, Bangsal Pagelaran dan Tratag Siti Hinggil diperbarui, pakem tari klasik Yogyakarta ditetapkan, dan pertunjukan wayang wong besar-besaran digelar hingga 20 lakon.
Bahkan Sultan memberikan keleluasaan bagi para abdi dalem untuk mengenyam pendidikan formal—sebuah langkah yang revolusioner pada zamannya. Ia juga mendukung pengadaan ambulan untuk rumah sakit, sesuatu yang memperlihatkan kepeduliannya terhadap kesehatan rakyat.
Membaca kisah ini, saya terdiam cukup lama. Dalam dunia yang hari ini semakin gemar mengejar kenyamanan dan kemudahan, ada satu pelajaran berharga yang dititipkan oleh Sultan HB VIII:
Jangan terlalu lama berada di zona nyaman.
Karena kenyamanan yang tak terkendali, bisa jadi candu yang melumpuhkan kewaspadaan.
Pendidikan karakter sejati bukan soal kata-kata bijak, tapi keputusan-keputusan sulit dalam membentuk watak manusia. Sultan HB VIII tidak hanya membesarkan pemimpin masa depan, tetapi juga menanamkan nilai ketangguhan, kewaspadaan, dan semangat melayani rakyat.
Saya pun bertanya pada diri sendiri:
Apakah saya sudah cukup keluar dari zona nyaman saya?
Ataukah saya mulai kehilangan prayita, kehilangan kewaspadaan karena terlalu larut dalam kenyamanan?
Kisah Sri Sultan HB VIII ini bukan sekadar cerita tentang seorang raja. Ini adalah pelajaran bagi setiap orang tua, pendidik, pemimpin, bahkan untuk kita—yang sedang belajar jadi manusia yang utuh.
Karena pada akhirnya, takhta sejati bukan yang diwariskan dari darah biru, tetapi yang tumbuh dari keberanian melawan kenyamanan.
📍Catatan dari sudut kecil hati seorang pembelajar,
yang sedang berusaha tidak kalingan suka,
dan tetap eling lan waspada.

