
Friday, March 7, 2014
Special Names

Thursday, March 6, 2014
Cerita tentang Bahaya yang Diam-diam Mengintai Kita
Waktu masih kuliah, saya pernah duduk di satu kelas sambil mendengarkan dosen bercerita tentang "guru besar". Biasanya yang dimaksud adalah profesor, sosok cerdas yang jadi panutan dalam dunia keilmuan. Tapi ada satu “guru besar” lain yang jauh lebih berpengaruh, lebih digandrungi, bahkan lebih ditakuti dampaknya. Dan anehnya, kita semua muridnya — sejak bayi sampai orang tua, dari rakyat biasa sampai pejabat tinggi.
Siapa “guru besar” itu? Televisi.
Coba kita jujur sebentar. Berapa jam dalam sehari yang kita habiskan untuk duduk manis menatap layar TV atau scrolling video dengan suguhan yang wow? Kita dibesarkan oleh tayangan yang serba gemerlap, penuh warna, penuh drama. Rasanya hidup tanpa televisi kayak hidup tanpa hiburan. Tapi, apakah semua yang kita tonton itu baik?
Dibalik tayangan yang “menghibur”, ada racun yang pelan-pelan masuk tanpa kita sadari. Televisi bukan cuma menyajikan berita atau sinetron, tapi juga memperkenalkan budaya kekerasan. Kita nonton adegan berkelahi, balas dendam, penipuan, atau gaya hidup hedonis. Dan yang menonton? Anak-anak kecil, remaja, bahkan orang dewasa. Tidak heran kalau tawuran remaja, geng motor, dan kekerasan di jalanan seperti salju yang menggelinding — makin lama makin besar.
Sialnya lagi, pendidikan agama di sekolah pun seringkali kurang kuat membekali anak-anak kita. Satu jam pelajaran agama kalah telak dengan lima jam nonton TV di rumah. Bahkan, di rumah pun suasana sering sepi dari bimbingan rohani. Banyak orang tua sibuk bekerja, dan anak-anak “dititipkan” pada benda kotak bernama televisi. Kalau bukan TV, ya gadget. Lebih canggih, lebih dekat, lebih personal. Dan isinya? Tidak semuanya baik.
Masalahnya bukan hanya tentang kekerasan. Kita mulai menginginkan hal-hal yang ada di layar. Perempuan mulai membandingkan suaminya dengan tokoh-tokoh drama yang kaya, romantis, ganteng, pokoknya sempurna. Laki-laki pun seringkali termakan gaya hidup mewah yang serba mengkilap, padahal kehidupan nyata seringkali penuh perjuangan. Dari sini, pertengkaran rumah tangga pelan-pelan menyusup. Banyak perceraian bukan karena tidak cinta, tapi karena ilusi yang dibentuk oleh layar kaca.
Belum cukup sampai di situ. Tayangan-tayangan mistis, horor, bahkan acara yang penuh unsur syirik begitu mudahnya masuk ke ruang tamu kita. Kita menonton orang minta rezeki di kuburan, minta keselamatan ke pohon besar, atau minta jodoh ke dukun berkedok ustadz. Semua ini perlahan menghancurkan akidah kita. Yang lebih menakutkan, semua itu dibalut dengan kata “hiburan”.
Di tengah zaman yang katanya modern, justru kepercayaan terhadap hal mistis semakin menjadi-jadi. Aneh, kan? Teknologi maju, tapi cara berpikir mundur. Dan sadarnya, setelah kehidupan kita terasa makin kosong.
Lalu, apa solusinya?
Bukan berarti kita harus membenci teknologi atau hidup di gua. Tapi kita harus pintar-pintar memilih mana tontonan yang layak, mana yang harus di-skip. Sebab, apa yang kita tonton hari ini, akan membentuk siapa diri kita besok. Jangan sampai, tanpa sadar, kita membesarkan generasi yang gagap akhlak, minim iman, dan rapuh akidahnya — semua karena kita abai terhadap racun yang kita konsumsi setiap hari.
Bimbingan agama, kebersamaan keluarga, dan kontrol diri jadi kunci penting. Jangan sampai TV lebih sering bicara kepada anak kita dibanding kita sendiri. Kalau mau generasi yang kuat, akidahnya kokoh, pikirannya cerdas, langkahnya lurus, ya mulai dari rumah. Mulai dari sekarang.
Karena “guru besar” bernama televisi ini tidak pernah libur mendidik — baik mendidik ke jalan kebaikan, atau justru menuntun perlahan ke jalan keburukan.
Pilihan ada di tangan kita.
Sumber Khusyu’ Ketika Sholat
[Pengasuh Ponpes Al-Ihsan Gowa, Sulsel]
Tuma’ninah (tenang), tanpa tergesa-gesa melakukan gerakan-gerakan sholat adalah perkara amat asasi dalam sholat, sebab orang yang meninggalkannya tak akan mendapatkan buah pahala dari sholatnya
, tak akan meraih khusyu’, dan malah mendapatkan dosa. Ia mendapatkan dosa karena sholatnya tak sah.
Perkara tuma’ninah dalam sholat sering dilalaikan oleh banyak orang saat ia melakukan sholat sehingga terkadang ia bagaikan seorang yang berolah raga saja, bahkan laksana ayam yang mematok makanannya. Begitu cepatnya ia bergerak dari rukun sholat ke rukun lainnya. Orang yang seperti ini tak akan mendapatkan sesuatu selain capek dan penat saja!!
Ada seorang sahabat Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- yang bernama Hudzaifah bin Al-Yaman -radhiyallahu anhu- pernah melihat seseorang yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya, karena ia tak tuma’ninah. Beliau berkata,
مَا صَلَّيْتَ وَلَوْ مُتَّ مُتَّ عَلَى غَيْرِ الْفِطْرَةِ الَّتِي فَطَرَ اللَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا
“Kamu belum sholat!! Andai kau mati, maka engkau akan mati di atas selain fitrah (Islam) yang Allah menciptakan Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- di atasnya”. [HR. Al-Bukhoriy (no. 791)]
Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy -rahimahullah- berkata, “Hadits ini dijadikan dalil tentang wajibnya tuma’ninah dalam rukuk dan sujud, dan bahwa melalaikannya adalah pembatal sholat serta (hadits ini menunjukkan) pengkafiran orang yang meninggalkan sholat, sebab lahiriahnya bahwa Hudzaifah meniadakan keislaman dari orang yang melalaikan sebagian rukun sholat. Jadi, peniadaan keislaman dari orang yang meninggalkan sholat secara total adalah lebih utama”. [Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhoriy (2/275)]
Hadits ini serupa dengan hadits al-musii’ sholatah (orang yang merusak sholatnya) sebagaimana yang terdapat sebuah hadits dari Abu Hurairah -radhiyallahu anhu-, ia berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ السَّلَامَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا
“Sesungguhnya Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah masuk masjid. Lalu masuk pula seorang laki-laki untuk sholat. Setelah itu, ia datang seraya mengucapkan salam kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Beliau pun menjawab salamnya seraya bersabda, “Kembalilah!! Sholat lagi, karena sesungguhnya engkau belum sholat (sebanyak tiga kali). Akhirnya, orang itu berkata, “Demi (Allah) Yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tak mampu melakukan selain itu. Karenanya, ajarilah aku”. Beliau bersabda, “Jika kamu bangkit menuju sholat, makasempurnakanlah sholatmu, lalu menghadaplah ke kiblat. Kemudian bacalah sesuatu yang mudah bagimu berupa (bacaan) al-Qur’an. Kemudian rukuklah sampai engkau tuma’ninah (tenang) dalam posisi rukuk. Kemudian bangkitlah sampai engkau tegak berdiri. Kemudian sujudlah sampai tuma’ninah dalam kondisi sujud. Kemudian angkatlah (kepalamu) sampai kamu tenang dalam keadaan duduk. Kemudian sujudlah sampai tuma’ninah dalam kondisi sujud. Kemudian lakukanlah hal serupa dalam sholatmu seluruhnya”.
[HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 757 & 793), Muslim dalam Shohih-nya (no. 397), Abu Dawud dalam As-Sunan(no. 856), At-Tirmidziy dalam As-Sunan(no. 303), An-Nasa’iy dalam Al-Mujtaba(2/124) dan Ibnu Majah dalamSunan-nya (no.1060)]
Al-Imam Abu abdillah Al-Qurthubiy -rahimahullah- berkata, “Selayaknya bagi seorang manusia untuk memperbaiki sholat fardhu dan nafilah-nya sehingga ia memiliki naflun (tambahan pahala) yang ia akan jumpai sebagai tambahan bagi sholat fardhunya, dan akan mendekatkannya kepada Robb-nya sebagaimana yang difirman oleh Allah -Subhanahu wa Ta’ala-, “Senantiasa hamba-Ku akan mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunnah)sampai Aku mencintainya…”[HR. Al-Bukhoriy]
Jika terdapat amalan nafilah (tambahan) yang sempurna sholat fardhu dengannya, maka hukumnya dalam sisi makna sama dengan hukum sholat fardhu.Barangsiapa yang tak mampu mengerjakan sholat dengan baik, maka tentunya ia lebih utama tak mampu mengerjakan sholat nafilah dengan baik. Karenanya, tak heran jika sholat nafilah orang-orang sangat kurang dan rusak, karena ringannya sholat itu di sisi mereka, dan peremehan mereka terhadap sholat sampai sholat nafilah itu seakan tidak diperhitungkan lagi!! Sungguh telah disaksikan di alam nyata orang yang diberi isyarat (yakni, punya kedudukan) dan dianggap berilmu, sedang sholat nafilahnya seperti itu, bahkan sholat fardhunya juga. Sebab ia mematok sholatnya seperti patokan ayam, karena ia tidak tahunya tentang hadits. Nah, bagaimana lagi dengan orang-orang bodoh yang tidak berilmu?! Sungguh para ulama berkata, “Tak akan sah rukuk, sujud, berdiri setelah bangkit dari rukuk dan duduk diantara dua sujud sampai ia tegak dalam posisi rukuk, berdiri, sujud dan duduk”. Inilah yang benar menurut atsar (hadits), dipijaki oleh mayoritas ulama dan para peneliti”. [Lihat Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (11/124-125)]
تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلاً
“Itulah sholat orang munafiq; ia duduk menunggu matahari (akan terbenam) sampai jika matahari telah berada diantara dua tanduk setan, maka ia (si munafiq) berdiri (sholat) seraya mematok (mempercepat) sholatnya empat kali sujud, sedang ia tak mengingat Allah di dalamnya, kecuali sedikit”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 622), At-Tirmidziy dalam Al-Jami’ (no. 160) dan An-Nasa’iy dalam Al-Mujtana (1/254)]
Al-Imam Al-Mubarokfuriy -rahimahullah- berkata dalam menukil ucapan Penulis Al-Arf Asy-Syadziy, “Ini menunjukkan tentang wajibnya menegakkan rukun-rukun sholat, karena syariat telah menganggap sujud yang berjumlah delapan, namun kosong dari duduk (diantara dua sujud) sebagai empat kali sujud”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy Syarh Sunan at-Tirmidziy (1/190)]
Para pembaca yang budiman, kondisi orang yang mematok sholat sebagaimana yang terlihat pada sebagian orang yang sholat, ia melewati rukun-rukun sholat bagaikan melesatnya anak panah; tidak melebihi ucapan “Allahu Akbar” saat rukuk dan sujud, karena saking cepatnya. Hampir saja sujudnya melampaui rukuknya; rukuknya hampir mendahului bacaannya. Terkadang juga ia menyangka bahwa hanya sekali bertasbih lebih utama dibandingkan tiga kali!!
Sungguh ini semua adalah sikap mempermainkan sholat, meniadakan sholat dan tipuan dari setan serta menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya saat Allah -Ta’ala- berfirman,
وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ [البقرة : 43]
“Dan Dirikanlah shalat…” (QS. Al-Baqoroh: 43)
Jadi, Allah memerintahkan kita untuk menegakkan sholat, yaitu melaksanakan sholat secara sempurna berdiri, rukuk, sujud dan dzikirnya. Dengan kata lain, ia melaksanakan rukun-rukun, kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah sholatnya.
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- sungguh telah mempersyaratkan keberuntungan dengan adanya khusyu bagi orang yang sholat dalam sholatnya. Barangsiapa yang terluput dari khusyu’, maka ia bukan orang-orang yang beruntung. Nah, tentunya mustahil akan ada khusyu’ dengan adanya ketergesa-gesaan dan cepat. Bahkan tak akan tercapai khusyu’ sama sekali, kecuali disertai tuma’ninah. Setiap kali bertambah tuma’ninahnya, maka khusyu’-nya juga akan bertambah. Setiap kali sedikit khusyu’nya, maka ketergesa-gesaannya akan semakin cepat sampai gerakan tangannya menjadi seperti bermain-main yang tak dibarengi dengan khusyu’ dan tidak fokusnya ia kepada ibadah. [Lihat Akhtho’ Al-Mushollin (hal. 122-123)]
sumber: http://shirotholmustaqim.wordpress.com/
Saturday, March 1, 2014
Aku Biasa-Biasa Saja
Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa, menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik).
Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasa interpersonal?
Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekalin tidak ada pontennya (nilainya) di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian kuantitatif.
Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja namanya Fani (6,5 tahun), kelas I SD. Ia memiliki banyak sekali teman. Dan ia pun tidak bermasalah harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul dengan siapa saja dilingkungan rumahnya. Ada satu hal yang menarik saat ia bercerita tentang teman-temannya.
"Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu...! Pinter Matematika, Bahasa Indonesia, Menggambar....pokoknya pinter sekali....!" katanya santai. Vivi juga pintar sekali menggambar, gambarnya bagus ...sekali! Kalau si Yahya hfalannya banyaaak... sekali!"
Ya memang fani senang sekali membanggakan teman-temannya. Ketika mendengar celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya, " Kalau mbak Fani pinter apa?" Ia menjawab dengan cengiran khasnya," Hehehe...kalau aku, sih, biasa-biasa saja".
Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi anda, tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya fani memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran prestasi scholastic.
Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Fani sering diminta bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar.
Bahkan ketika dua orang adiknya, Farah (4,5 tahun) dan Fadila (2,5 tahun) bertengkar. Fani langsung turun tangan. "Sudah..! sudah, Dek! sama saudara tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siap yang mulai?" Adiknya saling tunjuk."Hayo, jujur ...1Jujur itu disayang Allah..! Sekarang salaman ya... saling memaafkan".
Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah komentarnya!
"Wah bajunya bagus-bagus ya Bu? Aku sebenarnya pengin, tapi bajuku dirumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan Ibu sudah punya rezeki, aku minta dibelikan ..."
Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya, subhanallah anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan, sebagai salah satu ciri kecerdasan emosional.
Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini kepada anda, karena betapa banyak dari kita yang mengabaikan kecerdasan-kecerdasan emosional seperti itu. Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan pegawai, yang lebih banyak diterima adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.
Kadang kita merasa rendah diri manakal anak kita tidak mencapai ranking sepuluh besar disekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang sendiri, sombong, suka menipu atau tidak biasa bergaul.
Maka ketika Fani mengatakan "AKU BIASA-BIASA SAJA", maka saat itu ibunya menjawab "Alhamdulillah, mbak Fani suka menolong teman-teman, tidak sombong, mau bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak Fani, diteruskan dan disyukuri ya..?" Ya... ibunya ingin mensupport dan memberikan reward yang positif bagi Fani. Karena kita tahu anak-anak kita adalah amanah dan suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan bagaimana kita menjaga amanah. Sebagaimana doa kita setiap hari agar anak-anak menjadi penyejuk mata dan hati.
Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional anak-anak kita? Kalau belum mulailah dari diri kita, saat ini juga.
http://informatika.stei.itb.ac.id/~rinaldi.munir/Koleksi/Artikel/Aku%20Biasa-biasa%20Saja.htm

