7 Tahapan Dakwah Fardiyah
Bismillahirrohmanirrahim...
Dakwah yang dalam tata bahasa
artinya mengajak, secara istilah berarti mengajak manusia dari jalan kegelapan
(kejahiliyahan) menuju jalan cahaya (hidayah).
Sesungguhnya, menjadi kewajiban
kita untuk menerapkan apa yang kita yakini sebagai suatu kebenaran. Kewajiban
kita adalah mencurahkan segala potensi untuk beronsentrasi dalam perbaikan diri
dan berdakwah kepada orang lain. Begitu juga kewajiban untuk menjadikan dakwah
senantiasa hidup di dalam hati dan akal kita, mengalir mengikuti peredaran
darah dan nadi kita. Maka, hendaklah dakwah memenuhi seluruh penjuru ruangan
jiwa kita.
Dakwah Fardiyah (Dakwah dengan
Pendekatan Individual) adalah salah satu aspek dari sekian banyak aspek dakwah.
Sebab, kalaupun bukan dengan Dakwah Fardiyah, masih banyak lagi sarana dakwah
lain yang dapat dijadikan pilihan, diantaranya melalui tulisan, khutbah,
ceramah, pembicaraan informal, dan kerja keras.
Dalam buku ini, penulis ingin
menyampaikan tentang upaya dakwah dalam rangka menggaet “seorang akh”. Gambaran
operasionalnya secara ringkas adalah setiap akh (aktivis dakwah) hendaknya
berusaha, dengan Dakwah Fardiyah memasukkan kawan baru ke dalam jalan dakwah
dalam batas masa tertentu. Seorang akh harus benar-benar berazam untuk
melaksanakannya, dan mencurahan segala kemampuannya. Ia harus memandangnya
sebagai sebuah ujian baginya, keberhasilan dalam perkara ini berarti penambahan
yang berlipat ganda bilangan aktivis dakwah dan para penegak panji-panji jihad
di jalan Allah. Artinya, dakwah semakin cepat tersebar sehingga menjadikan
komunitas muslim bertambah besar dan kedudukan mereka semakin kokoh. Jika
begitu, artinya kita semakin dekat pada jalan menuju terealisasinya cita-cita
kita...
Dalam semua langkahnya, seorang
da’i tidak boleh mengabaikan rahasia pembuka hati (yakni sifat-sifat mulia yang
melahirkan kepercayaan orang lain terhadapnya) seperti yang dapat dipetik dari
firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam surah Yusuf : 36 yang artinya “Ceritakanlah
kepada kami tentang takwilnya; sesungguhnya kami tahu Anda adalah termasuk
orang-orang yang berbuat baik.” Ayat
ini berkenaan dengan permintaan kawan sepenjara Nabi Yusuf untuk menceritakan
takwil mimpinya. Pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa ini adalah bahwa
seorang da’i, dalam keadaan apa pun, harus tetap dikenal oleh masyarakatnya
sebagai pribadi yang baik dan jujur, sehingga ia dijadikan teladan dan tempat
rujukan mereka dalam kebaikan dan kebenaran. Inilah kunci utama pembuka hati
yang dimaksudkan. (Wallahu’alam, -pent)
Ia wajib berjihad
atas dirinya sendiri (menundukkan hawa nafsunya), senantiasa melakukan
muhasabah, muraja’ah, dan muraqabah (introspeksi, evaluasi, dan pengawasan)
terhadap dirinya. Jika ia mampu menundukkan dirinya sendiri maka akan mudah
melakukannya untuk orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Asy-Syams : 9 yang artinya “Sesungguhnya, beruntunglah orang yang menyucikan dirinya.”
Keutamaan dan
Esensi Dakwah
v Dakwah merupakan suatu kemuliaan yang agung bagi pengembannya. Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman, dalam surat Fushshilat (41) : 33 

v Dakwah
sangat mulia dan besar pahalanya. Hadist Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam
telah mengukuhkannya, “Sungguh sekiranya Allah memberikan hidayah kepada
seorang lelaki lantaran (dakwah)-mu, itu lebih baik daripada terbitnya
matahari.”
v Dakwah
adalah menyeru ke jalan yang benar di tengah keberagaman simbol, aliran,
pembodohan, penyebab keraguan (tasykik), pembaratan (westernisme), dan
penyelewengan nilai-nilai Islam. Maka ini merupakan perkara yang sangat
mendesak yang harus segera dilakukan.
v Dakwah
adalah satu tahapan penting dari beberapa tahapan amal Islami yang sesungguhnya. Ia merupakan tahap ta’rif (pengenalan terhadap dasar-dasar
Islam), sebelum dilakukan takwin dan tarbiyyah (pembentuan militansi dan
pembinaan seluruh dimensi kepribadian muslim yang utuh). Militansi yang
dimaksudkan bukan yang berkonotasi negatif seperti dalam pandangan umum, tetapi
adalah sifat dan kualitas pribadi muslim, sebagai akibat takwin dan tarbiyyah atas
dirinya, sehingga memiliki komitmen dan pendirian yang kooh terhadap ajaran
Islam. Maka pribadiMulim yang sudah di takwin
adalah seorang muslim yang seluruh aspek kehidupannya benar-benar telah
tertata, dan disiplin dengan nilai-nilai Islam yang benar, baik dari aspek
aqidah, ibadah, pemikiran, maupun akhlak, -pent)
Judul Asli : Nahwa Jil Muslim Adda’wah Ilallah Da’wah
Fardiyah
Penulis : Syaih Musthafa Masyhur
Penerbit Asli : Dar At-Tauzi’ Wannashr
Al-Islamiyah, Cairo
Judul Terjemahan : 7 Tahapan Da’wah Fardiyah
Penerjemah : Hamim Thohari, B.A. IRKH (Hans)
Penerbit : Al-I’tishom
Cetakan : Pertama, Juni 2000
Ukuran buku : 10,5cm x 16cm
Resensi oleh : Anisa Fatimah
#ResensiBuku, Selasa, 28 Januari
2014 @Masjid Al-Aman Sidoarum 9.50 WIB
No comments:
Post a Comment