Friday, February 21, 2014

7 Tahapan Dakwah Fardiyah



7 Tahapan Dakwah Fardiyah

Bismillahirrohmanirrahim...
Dakwah yang dalam tata bahasa artinya mengajak, secara istilah berarti mengajak manusia dari jalan kegelapan (kejahiliyahan) menuju jalan cahaya (hidayah).

Sesungguhnya, menjadi kewajiban kita untuk menerapkan apa yang kita yakini sebagai suatu kebenaran. Kewajiban kita adalah mencurahkan segala potensi untuk beronsentrasi dalam perbaikan diri dan berdakwah kepada orang lain. Begitu juga kewajiban untuk menjadikan dakwah senantiasa hidup di dalam hati dan akal kita, mengalir mengikuti peredaran darah dan nadi kita. Maka, hendaklah dakwah memenuhi seluruh penjuru ruangan jiwa kita.

Dakwah Fardiyah (Dakwah dengan Pendekatan Individual) adalah salah satu aspek dari sekian banyak aspek dakwah. Sebab, kalaupun bukan dengan Dakwah Fardiyah, masih banyak lagi sarana dakwah lain yang dapat dijadikan pilihan, diantaranya melalui tulisan, khutbah, ceramah, pembicaraan informal, dan kerja keras.

Dalam buku ini, penulis ingin menyampaikan tentang upaya dakwah dalam rangka menggaet “seorang akh”. Gambaran operasionalnya secara ringkas adalah setiap akh (aktivis dakwah) hendaknya berusaha, dengan Dakwah Fardiyah memasukkan kawan baru ke dalam jalan dakwah dalam batas masa tertentu. Seorang akh harus benar-benar berazam untuk melaksanakannya, dan mencurahan segala kemampuannya. Ia harus memandangnya sebagai sebuah ujian baginya, keberhasilan dalam perkara ini berarti penambahan yang berlipat ganda bilangan aktivis dakwah dan para penegak panji-panji jihad di jalan Allah. Artinya, dakwah semakin cepat tersebar sehingga menjadikan komunitas muslim bertambah besar dan kedudukan mereka semakin kokoh. Jika begitu, artinya kita semakin dekat pada jalan menuju terealisasinya cita-cita kita...

Dalam semua langkahnya, seorang da’i tidak boleh mengabaikan rahasia pembuka hati (yakni sifat-sifat mulia yang melahirkan kepercayaan orang lain terhadapnya) seperti yang dapat dipetik dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam surah Yusuf : 36 yang artinya “Ceritakanlah kepada kami tentang takwilnya; sesungguhnya kami tahu Anda adalah termasuk orang-orang yang berbuat baik.”  Ayat ini berkenaan dengan permintaan kawan sepenjara Nabi Yusuf untuk menceritakan takwil mimpinya. Pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa ini adalah bahwa seorang da’i, dalam keadaan apa pun, harus tetap dikenal oleh masyarakatnya sebagai pribadi yang baik dan jujur, sehingga ia dijadikan teladan dan tempat rujukan mereka dalam kebaikan dan kebenaran. Inilah kunci utama pembuka hati yang dimaksudkan. (Wallahu’alam, -pent)

Ia wajib berjihad atas dirinya sendiri (menundukkan hawa nafsunya), senantiasa melakukan muhasabah, muraja’ah, dan muraqabah (introspeksi, evaluasi, dan pengawasan) terhadap dirinya. Jika ia mampu menundukkan dirinya sendiri maka akan mudah melakukannya untuk orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Asy-Syams : 9 yang artinya “Sesungguhnya, beruntunglah orang yang menyucikan dirinya.”

Keutamaan dan Esensi Dakwah
v  Dakwah merupakan suatu kemuliaan yang agung bagi pengembannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, dalam surat Fushshilat (41) : 33
v  Dakwah sangat mulia dan besar pahalanya. Hadist Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam telah mengukuhkannya, “Sungguh sekiranya Allah memberikan hidayah kepada seorang lelaki lantaran (dakwah)-mu, itu lebih baik daripada terbitnya matahari.”
v  Dakwah adalah menyeru ke jalan yang benar di tengah keberagaman simbol, aliran, pembodohan, penyebab keraguan (tasykik), pembaratan (westernisme), dan penyelewengan nilai-nilai Islam. Maka ini merupakan perkara yang sangat mendesak yang harus segera dilakukan.

v  Dakwah adalah satu tahapan penting dari beberapa tahapan amal Islami yang sesungguhnya. Ia merupakan tahap ta’rif (pengenalan terhadap dasar-dasar Islam), sebelum dilakukan takwin dan tarbiyyah (pembentuan militansi dan pembinaan seluruh dimensi kepribadian muslim yang utuh). Militansi yang dimaksudkan bukan yang berkonotasi negatif seperti dalam pandangan umum, tetapi adalah sifat dan kualitas pribadi muslim, sebagai akibat takwin dan tarbiyyah atas dirinya, sehingga memiliki komitmen dan pendirian yang kooh terhadap ajaran Islam. Maka pribadiMulim yang sudah di takwin adalah seorang muslim yang seluruh aspek kehidupannya benar-benar telah tertata, dan disiplin dengan nilai-nilai Islam yang benar, baik dari aspek aqidah, ibadah, pemikiran, maupun akhlak, -pent) 

Judul Asli                     : Nahwa Jil Muslim Adda’wah Ilallah Da’wah Fardiyah
Penulis                         : Syaih Musthafa Masyhur
Penerbit Asli                : Dar At-Tauzi’ Wannashr Al-Islamiyah, Cairo
Judul Terjemahan       : 7 Tahapan Da’wah Fardiyah
Penerjemah                : Hamim Thohari, B.A. IRKH (Hans)
Penerbit                      : Al-I’tishom
Cetakan                       : Pertama, Juni 2000
Ukuran buku                : 10,5cm x 16cm
Resensi oleh                : Anisa Fatimah

#ResensiBuku, Selasa, 28 Januari 2014 @Masjid Al-Aman Sidoarum 9.50 WIB

No comments:

Post a Comment